Inilah final keenam yang dimasuki Skuat Garuda dalam sejarah turnamen Piala AFF yaitu pada tahun 2000, 2002, 2004, 2010 serta 2016 dan jadi pertemuan keempat Indonesia melawan The Elephant Wars di partai puncak setelah sebelumnya tercipta di tahun pada edisi 2000, 2002 dan 2016.
Sayangnya, dalam empat pertemuan itu Indonesia tak pernah menang sehingga julukan sebagai tim spesialis finalis pun melekat pada Indonesia.
Sebaliknya, Thailand, merupakan tim tersukses di sepanjang sejarah Piala AFF. Mereka pernah lima kali juara, yakni pada 1996, 2000, 2002, 2014 dan 2016.
Tapi dipastikan laga final yang akan berlangsung dua kali di satu tempat tahun ini bakal berbeda. Indonesia tak mau kehilangan muka dan menjadikan final kali ini sebagai ajang balas dendam menghadapi Thailand sekaligus menghapus kutukan tak pernah juara di kancah Asia Tenggara.
"Kami harus masuk ke lapangan dengan mental yang kuat. Saya selalu menekankan ini ke pemain bahkan sejak awal turnamen," kata pelatih Indonesia Shin Tae-yong dalam konferensi pers virtual sebelum pertandingan.
“Bola itu bulat. Tak ada yang tahu siapa yang akan menang, tapi semua tim sudah pasti ingin menang, terutama kami,” tegasnya.
Pria asal Korea Selatan berusia 51 tahun merasa optimistis karena sudah melihat permainan calon lawan Indonesia. "Sebagai pemain dan pelatih, saya sudah meraih lebih dari 20 gelar juara. Jadi saya mempunyai pengalaman untuk pertandingan seperti ini. Saya mau juara, tetapi gelar juara tidak bisa dicapai hanya karena ingin. Harus ada kerja keras. Kami akan menyusun strategi dan mencoba untuk menjadi yang terbaik di turnamen," tegasnya.
Sementara gelandang serang tim nasional Indonesia Egy Maulana Vikri sepakat dengan pelatihnya, mental bisa menentukan hasil final. Egy meyakinkan masyarakat Indonesia dia dan rekan-rekannya siap untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.
"Semua pemain memiliki mental yang kuat dan termotivasi. Kami tak merasa tertekan. Kami siap dan sangat bergarap menjadi juara kali ini," kata pemain yang merumput di klub Liga Slovakia, FK Senica itu.
Terpisah, pelatih Thailand Alexandre “Mano” Polking tetap merendah meski timnya diunggulan jadi juara dan menganggap Indonesia sebagai tim yang patut diwaspadai. "Saya tidak berpikir ada tim yang lebih difavoritkan ketika sampai di final," kata Mano.
"Saya sudah menyaksikan tiga laga yang dimainkan Indonesia secara langsung di stadion dan mereka tampil luar biasa. Mereka punya pemain yang sangat cepat. Mereka juga bermain sangat agresif. Kami sangat menghormati mereka dan kami tahu itu (final) akan kembali menjadi dua laga yang sangat berat," tutur pelatih kelahiran Brasil ini.
Ketika Thailand menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit, Indonesia datang ke final dengan status tim tersubur.
Indonesia tercatat telah membukukan total 18 gol sejak fase grup hingga dua leg semifinal kontra tuan rumah Singapura. Jadi tuan rumah di leg pertama ini, Indonesia dipastikan tidak bisa diperkuat Pratama Arhan Alif Rifai di leg pertama karena akumulasi kartu kuning.
Sementara Thailand kehilangan dua pemain pilar di lini belakang yaitu bek kiri Theerathon Bunmathan dan kipper utama Chatchai Budprom yang mengalami cedera cukup parah pada semifinal kedua kontra Vietnam.
“Kami tentu sangat sedih melihat kondisi Chatcai. Kami akan mencoba meraih gelar juara Piala AFF 2020 untuknya," sebut Mano lagi.
Siapapun pemenangan ajang ini, sejarah akan tercipta di mana untuk kali pertama, dua negara yang disanksi oleh Badan Anti-Doping Dunia (WADA) bakal dipertemukan pada partai puncak.
Dengan begitu, untuk kali pertama juga praktis pemenang Piala AFF 2020 tidak akan bisa melihat bendera negaranya berkibar saat closing ceremony.
Seperti diketahui, WADA memberikan sanksi kepada Timnas Indonesia dan Thailand dalam berbagai event olahraga, termasuk Piala AFF 2020. Ini dilakukan karena kedua negara menyalahi aturan terkait doping.
Tidak adanya bendera saat momen perayaan gelar juara bakal jadi kali pertama dalam sejarah Piala AFF.
Editor: Aspian Nur