"Yang jelas sedih, pokoknya ya sedih dan berharap ada perubahan lagi lah ke depannya, mau berbuat apa lagi ya sudah terjadi," kata Ari Jumat (3/12/2021) siang tadi.
Dengan nada lirih dirinya mengungkapkan jika degradasinya Mitra Kukar disebabkan karena pertandingan terakhir kalah 0-1 dari Persiba dan hasil PSBS Biak melawan Persewar Waroepen 1-1.
Mitman menyatakan hal itu bukanlah penyebab satu-satunya. Semua tentu disebabkan dari rentetan hasil laga yang dilakukan sejak pada putaran pertama sewaktu masih di selenggarakan di Kalimantan Tengah (Kalteng).
"Tidak bisa juga kita menyalahkan laga terakhir kan rentetannya dari laga sejak putaran pertama sampai laga terakhir dan kami lihat kurang ambisius bermainnya serta mental kedaerahan dari pemain juga kurang terasa," papar Ari.
Sebagai suporter setia yang memberikan dukungan penuh dalam kondisi apapun Mitra Kukar saat ini, Ari berharap akan ada pembenahan di tubuh Mitra Kukar.
"Harapannya ya kedepan bisa putra daerah yang dimaksimalkan untuk mengisi Skuad dan jujur tidak bisa berkata-kata lagi. Untuk Mitman selama ini tetap aktif saja dan tetap ada selalu untuk Mitra Kukar," harapnya.
Diketahui Mitra Kukar dalam sejarah sepakbola Indonesia memiliki nama yang cukup besar dan bisa disandingkan dengan beberapa klub papan atas lainnya di pentas liga Indonesia. Mitra Kukar pernah menjajal liga teratas kompetisi sepakbola nasional dari dulu dengan nama divisi utama, ISL, Liga 1 dan sempat meraih juara pertama di ajang Sudirman Cup.
Terpisah, mantan pemain Mitra Kukar Rully Padengke mengaku meneteskan air mata begitu mengetahui Mitra Kukar terdegradasi. “Begitu tahu Mitra degradasi ke Liga 3, saya menangis seolah tak percaya, lutut bergetar karena menahan sedih dan kecewa,” ungkap Rully.
Menurut Rully, kekalahan dari PSBS Biak 1-2 pada putaran pertama Liga 2 Grup yang berlangsung di Kalteng ikut jadi penentu tidak mampunya Mitra bertahan di Liga 2 musim depan. “Kalau saat itu Mitra bisa imbang atau menang dari PSBS, mungkin hasilnya lain, karena yang dihitung adalah head to head,” sebutnya.
Rully yang saat aktif jadi pemain berposisi sebagai striker ini juga menyoroti pelatih Asep Suryadi yang tidak memiliki formasi the winning team karena dalam setiap pertandingan selalu berganti formasi. “Pelatih Mitra sepertinya tidak memiliki kerangka tim yang tetap. Saya juga melihat Mitra Kukar selalu memilih pelatih setelah ada pemain, jadi ada pemain baru ada pelatih, itu pastinya situasi yang tidak bagus. Harusnya kerangka tim sudah ada sebelum kompetisi, kalau tidak ya lihat saja hasilnya sekarang,” tegas pria asal Kota Samarinda ini.
Rully yang berandil besar membawa Mitra Kukar promosi dari Divisi 1 ke Indonesia Super League (ISL) di Stadion Manahan Solo tahun 2010/2011 silam berharap ada evaluasi besar-besaran dari manajemen tim. “Persiapkan dari sekarang untuk ke Liga 3, evaluasi manajemen tim, pemilihan pelatih dan pemain harus lebih cermat,” tutupnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur