Salah satu hal yang jadi sorotan adalah penghapusan degradasi pada musim 2021/22, hal ini didasarkan pada kondisi Indonesia yang masih belum lepas dari pandemi virus corona, sehingga klub dalam masa sulit.
Komite Eksekutif (Exco) PSSI konon sudah mengadakan rapat dan membahas hal ini, dengan akhirnya mereka menyatakan setuju. Namun, belum ada keputusan yang resmi karena masih menunggu kongres PSSI, 29 Mei nanti.
Borneo FC sebagai salah satu klub peserta Liga 1 menyatakan mereka kurang setuju dengan penghapusan degradasi. Hal ini disuarakan oleh presiden klub asal Samarinda tersebut, Nabil Husein.
"Borneo FC ingin sepakbola yang jelas aturannya. Karena dengan tanpa degradasi, satu kemunduran sepakbola Indonesia," tegas Nabil, yang juga dirilis via akun media sosial dari Borneo.
Hingga saat ini, berbagai regulasi baru muncul tanpa jelas sumber dan tujuannya. Selain penghapusan degradasi, ada pula pengurangan kuota pemain asing yang kemudian dibantah oleh PSSI beberapa waktu lalu.
Menurut Hasani Abdulgani selaku salah satu anggota Exco PSSI, perdebatan mengenai penghapusan degradasi memakan waktu cukup panjang di kalangan Exco. Dasarnya, hal ini dilakukan karena menyesuaikan dengan situasi.
Rencana penghapusan degradasi sudah muncul sejak kompetisi 2020 niatnya dilanjutkan. Kala itu, Liga 1 2020 tidak diberlakukan degradasi dan harapannya berlanjut pada Oktober tahun lalu, tapi akhirnya gagal karena tak dapat izin.
Beberapa klub juga tidak setuju dengan rencana dihapusnya degradasi, dan beberapa memilih diam atau tidak mengomentari rencana tersebut. Harapannya, bisa ditermukan solusi terbaik pada kongres tahunan PSSI yang digelar di Jakarta, 29 Mei nanti.
Sementara pelatih Bali United, Stefano Cugurra 'Teco' berkomentar, semestinya kompetisi menerapkan sistem degradasi dan promosi seperti biasa. Memang, penghapusan degradasi ini dilakukan karena menilai klub tengah dalam masa sulit, pandemi virus corona.
Jika degradasi dihapuskan, maka hanya ada dua klub Liga 2 yang dapat jatah promosi. "Tidak bagus liga tanpa degradasi, saya pikir klub dari Liga 2 juga mau perwakilannya naik [promosi] ke Liga 1," ungkap pelatih asal Brasil tersebut dikutip dari goal.com.
Menurut Teco, sepakbola Indonesia justru harus bisa mengejar ketertinggalan. Kompetisi telah mati sejak Maret tahun lalu, dan diharapkan tahun semua event sepakbola bisa kembali hidup, baik kompetisi, mau pun piala liga. "Sepakbola Indonesia sudah tidak main hampir selama satu tahun. Seharusnya sudah ada Liga 1 serta Piala Indonesia juga, tutup pelatih yang pernah membawa Persija Jakarta dan Bali United juara Liga 1 tersebut.
Beda pihak, beda pendapat, Barito Putera sebagai salah satu peserta Liga 1 justru mendukung penghapusan degradasi pada musim ini. Hasnuaryadi Sulaiman selaku CEO klub menyebut ada keuntungan dari penghapusan degradasi.
Selain beban klub tidak begitu besar karena saat ini tengah dalam masa sulit pandemi virus corona, para pemain muda punya peluang yang lebih besar untuk diberdayakan klub dalam setiap pertandingan, karena tidak takut ancaman degradasi.
"Mudah-mudahan dengan tidak adanya degradasi, suporter dan masyarakat yang mencintai Barito Putera bisa mengerti. Bukan berarti tidak mengejar kemenangan, tapi kami ingin memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada pemain muda untuk bertanding di atas lapangan," ujar Hasnur.
Editor: Aspian Nur