Danurwindo sebagai salah satu pelatih senior di Indonesia memang lama menjabat sebagai Dirtek PSSI. Dia lalu digantikan oleh Indra Sjafri yang kini berpolemik dengan Tae-yong. Belakangan Tae-yong bersikap lantang dalam mengkritik PSSI. Dia membuka semua keluhannya saat wawancara dengan media massa Korea Selatan.
Menurut Yeyen, sikap tersebut tidak elok. Padahal Tae-yong bekerja untuk PSSI, dan sudah seharusnya tidak banyak bicara di luar. "Tak sebaiknya STY mengumbar emosi lewat media massa, ingat, saat ini dia bekerja untuk PSSI. Ada etika bekerja antara pemberi kerja dan penerima kerja," tutur Yeyen.
STY diketahui mengkritik PSSI lewat media massa Korea Selatan. Di negeri asalnya, dia buka-bukaan mengenai keganjilan di tubuh federasi. Yang paling mencolok adalah kritik dia atas dipromosikannya Indra sebagai Dirtek PSSI. Padahal ketika menjadi asistennya di Timnas Indonesia U-19, ada tindakan indisipliner yang dilakukan.
Yeyen menganggap tidak etis jika Tae-yong melakukan itu. Seharusnya hal seperti itu tidak dilakukan.
"Saya pikir kita semua tahu jawabannya. Pelatih punya karakter berbeda-beda dalam bekerja dan ber-partner dengan wartawan. Tapi, membahas masalah internal klub/tim lewat wartawan adalah jauh dari pikiran saya," papar Yeyen. "Sama saja seperti wartawan membuka masalah internal perusahaan di media tempat dia bekerja dan menerima gaji kepada orang lain, apakah pimpinan Anda akan senang melihatnya?" imbuhnya.
Sikap negatif Tae-yong menurut Yeyen merembet kepada komunikasinya dengan pemain. Menurutnya, juru taktik berusia 51 tahun itu kerap melontarkan kata-kata yang tak pantas. "Jujur saja, sebagai pelatih menurut saya STY terlalu banyak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, termasuk meremehkan pemain Indonesia. Seharusnya, pelatih harus memberikan motivasi dan perkataan yang positif kepada pemain dan timnya. Bukankah dia dibayar mahal untuk memperbaiki sepak bola Indonesia?" ungkap Yeyen. (*)