Kegiatan ini menggabungkan pembelajaran bahasa Inggris dengan pengetahuan dasar penjualan dan pelayanan yang dibutuhkan dalam usaha di bidang pelayanan.
Selama pelatihan, peserta mempelajari percakapan bahasa Inggris yang umum digunakan saat bekerja, mulai dari menyambut pelanggan, menerima pesanan, menjelaskan menu, memberikan rekomendasi minuman, menangani keluhan, hingga memproses pembayaran. Peserta juga berlatih menawarkan produk melalui strategi up-selling, misalnya dengan memperkenalkan ukuran minuman yang lebih besar atau pilihan tambahan sesuai kebutuhan pelanggan. Materi disampaikan melalui latihan percakapan dan simulasi agar lebih mudah diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Salah satu pengajar, Tia Rahmatika menyampaikan bahwa kemampuan berbahasa Inggris dapat dimulai dari percakapan sederhana yang digunakan sehari-hari.
“Barista tidak harus langsung menguasai bahasa Inggris yang rumit. Dengan belajar menyapa pelanggan dan menjelaskan menu secara sopan, mereka bisa mulai membangun kepercayaan diri saat berkomunikasi," ungkap Tia.
Dari sisi ekonomi, kemampuan menawarkan produk secara tepat dapat mendukung penjualan, sedangkan dari sisi pariwisata, pelayanan yang ramah membantu menciptakan pengalaman positif bagi pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara.
Melalui kegiatan ini, tim berharap karyawan kafe semakin percaya diri menggunakan bahasa Inggris dan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Peningkatan
kompetensi tersebut diharapkan turut mendukung perkembangan usaha kafe lokal serta kesiapan sumber daya manusia dalam melayani pengunjung di Samarinda.
Kegiatan ini menggabungkan pembelajaran bahasa Inggris dengan pengetahuan dasar penjualan dan pelayanan yang dibutuhkan dalam usaha di bidang pelayanan.
Selama pelatihan, peserta mempelajari percakapan bahasa Inggris yang umum digunakan saat bekerja, mulai dari menyambut pelanggan, menerima pesanan, menjelaskan menu, memberikan rekomendasi minuman, menangani keluhan, hingga memproses pembayaran. Peserta juga berlatih menawarkan produk melalui strategi up-selling, misalnya dengan memperkenalkan ukuran minuman yang lebih besar atau pilihan tambahan sesuai kebutuhan pelanggan. Materi disampaikan melalui latihan percakapan dan simulasi agar lebih mudah diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Salah satu pengajar, Tia Rahmatika menyampaikan bahwa kemampuan berbahasa Inggris dapat dimulai dari percakapan sederhana yang digunakan sehari-hari.
“Barista tidak harus langsung menguasai bahasa Inggris yang rumit. Dengan belajar menyapa pelanggan dan menjelaskan menu secara sopan, mereka bisa mulai membangun kepercayaan diri saat berkomunikasi," ungkap Tia.
Dari sisi ekonomi, kemampuan menawarkan produk secara tepat dapat mendukung penjualan, sedangkan dari sisi pariwisata, pelayanan yang ramah membantu menciptakan pengalaman positif bagi pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara.
Melalui kegiatan ini, tim berharap karyawan kafe semakin percaya diri menggunakan bahasa Inggris dan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Peningkatan
kompetensi tersebut diharapkan turut mendukung perkembangan usaha kafe lokal serta kesiapan sumber daya manusia dalam melayani pengunjung di Samarinda.