Kamis, 28/05/2026
Kamis, 28/05/2026
Siswa di sekolah ketika mengikuti proses belajar mengajar. (Ayu/KoranKaltim.com)
Kamis, 28/05/2026

Siswa di sekolah ketika mengikuti proses belajar mengajar. (Ayu/KoranKaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Menjelang pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, orang tua di Kota Samarinda diminta tidak terpaku pada anggapan sekolah favorit dan mengikuti seluruh mekanisme penerimaan sesuai aturan yang berlaku.
Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwalikan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda Sri Puji Astuti menyebut, seluruh mekanisme penerimaan murid telah diatur jelas dalam petunjuk teknis (juknis) yang disosialisasikan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Kendati demikian, anggapan mengenai sekolah favorit sampai saat ini memang kerap menjadi pemicu munculnya praktik mencari jalur belakang agar anak tetap bisa diterima di sekolah negeri tertentu meski tidak sesuai aturan.
“Setiap tahun pasti banyak yang datang ke DPR atau ke rumah minta bantuan supaya anaknya bisa masuk sekolah negeri,” ujar Puji.
Lanjutnya, masyarakat diminta seharusnya memahami proses penerimaan siswa harus berjalan sesuai ketentuan berlaku tanpa perlakuan khusus.
Terlebih, Pemkot Samarinda telah menyiapkan saluran pengaduan terpusat di Inspektorat Daerah sebagai wadah pelaporan dugaan pelanggaran.
Meski begitu, pola pikir mengenai sekolah unggulan masih menjadi tantangan yang sulit dihilangkan. Bahkan, tidak sedikit orang tua tetap memaksakan kehendak saat anak tidak diterima di sekolah tujuan.
“Kadang anaknya jadi mogok sekolah karena tidak masuk sekolah yang diinginkan. Akhirnya dipaksakan juga lewat jalur belakang,” katanya.
Puji melanjutkan, kondisi tersebut dipengaruhi belum meratanya kualitas serta sebaran fasilitas pendidikan di Kota Tepian. Sejumlah wilayah masih mengalami keterbatasan akses sekolah negeri, baik jenjang SD maupun SMP.
Di sisi lain, pemerintah daerah tidak dapat sembarangan membangun gedung baru lantaran harus mempertimbangkan keberlangsungan sekolah swasta agar tidak kehilangan peserta didik.
Politisi Partai Demokrat ini pun meminta warga mulai memahami situasi tersebut dan tidak hanya berfokus pada sekolah tertentu yang dianggap favorit.
“Yang paling penting sekarang bagaimana semua pihak bisa memahami aturan dan menjalankan proses ini dengan baik,” tandasnya.
Editor: Erwin
Kamis, 28/05/2026
Siswa di sekolah ketika mengikuti proses belajar mengajar. (Ayu/KoranKaltim.com)
TERPOPULER