Jumat, 17/04/2026
Jumat, 17/04/2026
Prof. Dr. Khojir, M.S.I., Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam Multikultural (UINSI Samarinda).
Jumat, 17/04/2026

Prof. Dr. Khojir, M.S.I., Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam Multikultural (UINSI Samarinda).
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka pengukuhan Prof. Dr. Khojir, M.S.I. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam Multikultural di Auditorium 22 Dzulhijjah.
Pengukuhan ini menandai bertambahnya jajaran profesor di kampus tersebut, dengan Prof. Khojir menjadi Guru Besar ke-17. Saat ini, tercatat 12 Guru Besar masih aktif menjalankan tridharma perguruan tinggi di lingkungan UINSI Samarinda.
Dalam pidato ilmiahnya bertajuk “Pesantren: Laboratorium Multikulturalisme dan Toleransi”, Khojir menegaskan peran strategis pesantren dalam menjaga harmoni sosial di tengah tantangan keberagaman dan arus globalisasi.
Menurutnya, pesantren tidak sekadar menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga ruang sosial yang membentuk nilai toleransi, dialog, dan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.
Ia menyoroti, praktik pendidikan Islam saat ini masih cenderung tekstual dan belum sepenuhnya menyentuh realitas sosial. Kondisi tersebut dinilai berpotensi melahirkan cara pandang keagamaan yang sempit dan kurang adaptif terhadap keberagaman.
Sebagai solusi, Khojir menawarkan model pembelajaran halaqah berbasis kearifan lokal. Pendekatan ini mengintegrasikan nilai agama dengan budaya, tradisi, serta praktik sosial masyarakat.
“Model ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman sekaligus sikap toleransi santri, baik dari aspek pengetahuan maupun keterbukaan dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Ia juga menilai, pesantren memiliki peluang besar menjadi agen perdamaian, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat, termasuk dampak pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kaltim.
“Pesantren harus mampu menjembatani agama, tradisi, dan modernitas agar santri tidak hanya religius, tetapi juga toleran dan adaptif,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UINSI Samarinda, Zurqoni menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar merupakan langkah strategis dalam memperkuat kontribusi keilmuan perguruan tinggi keagamaan Islam di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Ia menilai, pesantren sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membentuk karakter moderat dan toleran, sekaligus menjadi ruang interaksi multikultural bagi para santri dari berbagai latar belakang.
Zurqoni juga menyoroti meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap pesantren, yang kini tidak hanya dituntut memperkuat nilai keagamaan, tetapi juga mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan praktis.
“Prof Khojir diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan model pembelajaran halaqah berbasis kearifan lokal yang mampu membentuk karakter multikultural santri,” ujarnya.
Ia menambahkan, pesantren saat ini tengah berada dalam fase transisi menuju lembaga pendidikan yang lebih adaptif, terbuka, dan profesional.
Melalui pengukuhan ini, UINSI Samarinda menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan Islam yang inklusif, kontekstual, serta berakar pada kearifan lokal guna menjawab tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Editor: Erwin
Jumat, 17/04/2026
Prof. Dr. Khojir, M.S.I., Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam Multikultural (UINSI Samarinda).
TERPOPULER