Kamis, 07/08/2025
Kamis, 07/08/2025
Pekerja melakukan perbaikan di SDN 020 Samarinda Utara. Sekolah ini masih menggunakan bangunan kayu dan sebagian dinding sudah mengalami kerusakan. (Ayu/KoranKaltim.com)
Kamis, 07/08/2025

Pekerja melakukan perbaikan di SDN 020 Samarinda Utara. Sekolah ini masih menggunakan bangunan kayu dan sebagian dinding sudah mengalami kerusakan. (Ayu/KoranKaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Berdiri di puncak Jalan Karya Baru, tidak jauh dari permukiman padat di belakang Kampus Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM), Sekolah Dasar Negeri (SDN) 020 Samarinda Utara menghadapi banyak persoalan infrastruktur.
Bangunannya masih berdinding kayu dan terlihat rapuh, ruang belajar terbatas, toilet tidak memadai, bahkan perpustakaan harus diubah menjadi kelas darurat.
Sejumlah perbaikan awal sudah dilakukan. Anak-anak kelas I yang sempat belajar daring karena plafon ambruk, kini sudah kembali belajar tatap muka sejak Kamis, 7 Agustus 2025, setelah ruangannya diperbaiki. Namun, kondisi sekolah tetap menjadi sorotan, terutama karena lokasinya berada di lereng curam dengan potensi longsor.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda sebelumnya menyebut kawasan sekolah berada di zona longsor kategori rendah hingga sedang. Relokasi tidak disarankan, tetapi perlu dilakukan mitigasi struktural, seperti pembangunan turap dan pengendalian aliran air di sekitar sekolah.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda pun memastikan SDN 020 masuk dalam daftar pembangunan fisik pada tahun anggaran 2026. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana SD, Bidang Pembinaan SD Disdikbud Samarinda, Dwi Purnomo.
Ia menjelaskan, proyek ini sebenarnya sudah dirancang sejak 2025 dan sempat dialihkan ke Kementerian PUPR melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dikelola oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW). Namun, rencana itu belum terealisasi karena masih menunggu keputusan kementerian.
“Balai sudah survei pada Oktober 2024 dan sempat menyurati kami. Tapi saat kami mulai menyusun perencanaan, mereka minta dihentikan agar tidak tumpang tindih. Akhirnya dialihkan ke sekolah lain,” terang Dwi.
BPPW sempat mengundang kepala sekolah untuk membahas restrukturisasi bangunan pada akhir 2024, tapi sampai sekarang belum ada kabar mengenai tindak lanjutnya.
“Karena bangunan sekolah sempat viral dua kali, kami ambil langkah cepat. Penambalan sudah dilakukan supaya anak-anak tetap bisa belajar dengan cukup nyaman,” ujarnya.
Pihaknya juga mempertimbangkan kontur tanah yang berada di lereng saat menyusun rencana pembangunan 2026. Bangunan utama dipastikan tetap satu lantai untuk menjaga keamanan struktur.
“Hanya ruang guru yang agak rawan karena posisinya di lereng dan ditopang tiang. Mungkin nanti kita pertimbangkan penguatan strukturnya,” ujarnya.
Soal pagar beton yang tampak mencolok di antara bangunan kayu, ia menyebut itu bagian dari pengamanan. Tapi pagar bisa dibongkar untuk mendukung pembangunan baru. “Nanti juga akan dibangun ulang,” imbuhnya.
Toilet dan perpustakaan rencananya akan dipindah ke bagian belakang agar area depan bisa difungsikan sebagai tempat parkir. Usulan delapan rombongan belajar dari kepala sekolah juga masih dikaji, mengingat keterbatasan lahan dan kebijakan tidak membangun gedung bertingkat.
“Kita akan koordinasi dengan konsultan, sambil lihat langsung kondisi lapangan. Tahun ini kita buat perencanaan, pelaksanaannya 2026,” tutupnya.
Editor: Erwin
Teks Foto : Pekerja melakukan perbaikan di SDN 020 Samarinda Utara. Sekolah ini masih menggunakan bangunan kayu dan sebagian dinding sudah mengalami kerusakan. (Ayu/KoranKaltim.com)
Kamis, 07/08/2025
Pekerja melakukan perbaikan di SDN 020 Samarinda Utara. Sekolah ini masih menggunakan bangunan kayu dan sebagian dinding sudah mengalami kerusakan. (Ayu/KoranKaltim.com)
TERPOPULER