Jumat, 04/07/2025

Pick Me, Ciri Kelainan Mental yang Dibahas Fakultas Psikologi Untag dalam Seminar di Samarinda

Jumat, 04/07/2025

Kegiatan seminar Kesehatan Mental yang diselenggarakan Universitas Untag Samarinda.(Istimewa)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Pick Me, Ciri Kelainan Mental yang Dibahas Fakultas Psikologi Untag dalam Seminar di Samarinda

Jumat, 04/07/2025

logo

Kegiatan seminar Kesehatan Mental yang diselenggarakan Universitas Untag Samarinda.(Istimewa)

Penulis: Ainur Rofiah

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Jika ada orang yang berusaha keras  disukai orang lain, bahkan untuk tujuan itu rela merendahkan orang lain, itu satu diantara ciri kelainan mental yang disebut pick me. 

Sementara kalau ada orang yang ingin selalu ingin dominan dan tampak percaya diri padahal sebenarnya rapuh, narsis disertai ketakutan terlihat lemah masuk gangguan mental yang disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD). 

Gangguan mental bagi orang yang mudah tersinggung dan emosinya tak stabil disebut Borderline Personality Disorder (BPD).

Tiga jenis gangguan mental tersebut dibahas dalam Seminar Psikoedukasi bertema “Mengeksplorasi Pick Me” dalam Spektrum Narcissistic Personality Disorder (NPD) dan Borderline Personality Disorder (BPD).

Kegiatan ini  berlangsung  di Auditorium HM Ardans Untag Jalan Ir H Juanda Samarinda, diikuti 250 peserta baik mahasiswa psikologi, pelajar SMA khusus Gen Z dan umum, 

digagas Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda bersama panitia penyelenggara para mahasiswa Psikologi Untag Angkatan 2023 khususnya berkaitan tugas akhir Mata Kuliah Psikologi Abnormal. 

Ketua panitia acara Tri Utami Handayani didampingi Humas Roessalina Arfansyah kepada Korankaltim.com menyebut seminar dilaksanakan untuk memahami fenomena Pick Me Behaviour dari sudut pandang psikologi khususnya yang berkaitan kepribadian narsistik dan borderline. 

"Semoga seminar ini bisa membuka wawasan, jadi ruang diskusi menyenangkan dan membuat semua peka terhadap kesehatan mental," harap Tri.

Penjabat Rektor Untag Evi Kurniasari Purwaningrum menyebut lewat seminar ini mahasiswa bisa berbagi pengetahuan di kelas dengan masyarakat umum.  "Apalagi tema relevan di kalangan remaja soal kesehatan mental agar tak salah memahami atau memaknai," kata Evi. 

Dekan Fakultas Psikologi Untag Samarinda Diana Imawati mengatakan, selama ini ada kecenderungan di kalangan anak muda tidak mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi masalah kesehatan mental. 

"Masalah kesehatan mental banyak berseliweran di media sosial, tapi tidak memahami lebih jauh. Dengan seminar ini semoga  menambah wawasan dan sekaligus mengedukasi," ujar Diana. 

"Kegiatan ini output dari mata kuliah yang temanya dipilih langsung para mahasiswa mengingat banyaknya spektrum di gangguan kepribadian," tambah Annisya Muthmainnah, dosen pengampu mata kuliah.

Annisya menjadi pemateri internal pada acara ini bersama Jovita Nabila Prinanda, Psikolog Layanan Psikologi Online Alurasa yang mengupas lebih jauh seputar Pick Me dan kaitannya NPD dan BPD.  

Menurut Annisya dalam psikologi abnormal berarti pola pikir atau emosi atau perilaku yang menyulitkan seseorang menjalani kehidupan, namun perilaku itu seharusnya tidak dibiarkan berlarut.  

“Pick Me itu ekspresi luka psikologis, sementara NPD dan BPD sering terbentuk pengalaman masa kecil. Pola ini harus komitmen untuk merubah," ungkapnya. 

Perilaku mental Pick Me ini bisa diamati, namun sedikit yang terlihat seperti bongkahan es, namun jika dikaji lebih jauh hal itu muncul karena adanya NPD.  "Ingin pujian, emosi mudah meledak ledak," kata Jovita, pembicara eksternal dari Surabaya ini. 

Untuk mengatasi hal tersebut perlu intervensi dengan terapi. Setidaknya bisa dilakukan Dialectical Behaviour Therapy (BDT) dan Cognitive Behaviour Therapy (CBT). 

Dengan BDT mendorong untuk menerima pengalaman dan emosi juga mengembangkan kemampuan dalam kesadaran penuh (mindfulness), toleransi terhadap stres, mempertahankan hubungan dengan orang lain dan mengatur emosi.

Sementara dengan CBT melalui upaya menurunkan kepercayaan atau keyakinan negatif, juga modifikasi perilaku (menguatkan, menurunkan atau mempertahankan perilaku) serta mengubah pikiran dan perilaku yang maladaptif (merugikan) menjadi adaptif (bermanfaat).


Editor: Aspian Nur

Pick Me, Ciri Kelainan Mental yang Dibahas Fakultas Psikologi Untag dalam Seminar di Samarinda

Jumat, 04/07/2025

Kegiatan seminar Kesehatan Mental yang diselenggarakan Universitas Untag Samarinda.(Istimewa)

Share

Berita Terkait