Menurut Gitut, alasan Yaumil buat sekolah karena pada tahun 1990, hampir semua pendatang yang jadi pekerja di Bontang. Banyak yang berpikir apa yang bisa dikerjakan hingga meninggalkan warisan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat, dan tercetus membuat sarana pendidikan.
Saat ini sekolah SDIT Cahaya Fikiri sudah berdiri kokoh dan memiliki sebanyak 303 siswa. Gitut mengaku sangat terharu. “Ini berawal dari mimpi, saya terharu bisa dilaksanakan. Dan saya berharap selanjutnya bisa dilanjutkan dengan generasi berikutnya, untuk pembangunan-pembangunan lanjutannya seperti musala, perpustakaan, serta kantin di sekolah ini,” ujar Gitut.
Pembangunan masjid sekolah Cahaya Fikri ini, menurut Kepala SDIT Cahaya Fikri Nina Risdiana, sangat diperlukan. Mengingat tidak ada ruangan para siswa untuk salat berjamaah Zuhur, Ashar dan Dhuha.
“Anak-anak biasanya solat Dhuha dan Zuhur dilakukan di dalam kelas masing-masing,” ujar Nina.
Karena itulah, SDIT membangun masjid sekolah yang rencananya akan dibangun dua lantai. Dimana lantai satu dibangun untuk aula dan lantai dua untuk kegiatan solat berjamaah.
Dikatakan Nina, pembangunan masjid ini masih sangat memerlukan bantuan dana dan diprediksi menelan anggaran sebesar Rp1,8 miliar.
“Biaya Rp1, 8 miliar itu terbagi untuk tahapan I pembuatan lantai 1 yakni pondasi, kolom dan lainnya memerlukan Rp700 juta, dan tahap kedua untuk pembangunan tempat ibadah memerlukan Rp700 juta. Sementara sampai Juli ini tahap 1 yang digarap sudah menelan anggaran sebesar Rp 200 juta sekian. Dan anggaran yang terkumpul baru mencapai Rp300 jutaan. Karena itu, kami sangat mengharapkan doa restu moril dan materiel,” ujarnya.
Nurul Hidayati, menjelaskan saat ini kondisi pemerintah sangat terpuruk dalam hal keuangan. Sehingga masih belum bisa memberikan bantuan pembangunan masjid.(cil)
Menurut Gitut, alasan Yaumil buat sekolah karena pada tahun 1990, hampir semua pendatang yang jadi pekerja di Bontang. Banyak yang berpikir apa yang bisa dikerjakan hingga meninggalkan warisan yang sangat bermanfaat untuk masyarakat, dan tercetus membuat sarana pendidikan.
Saat ini sekolah SDIT Cahaya Fikiri sudah berdiri kokoh dan memiliki sebanyak 303 siswa. Gitut mengaku sangat terharu. “Ini berawal dari mimpi, saya terharu bisa dilaksanakan. Dan saya berharap selanjutnya bisa dilanjutkan dengan generasi berikutnya, untuk pembangunan-pembangunan lanjutannya seperti musala, perpustakaan, serta kantin di sekolah ini,” ujar Gitut.
Pembangunan masjid sekolah Cahaya Fikri ini, menurut Kepala SDIT Cahaya Fikri Nina Risdiana, sangat diperlukan. Mengingat tidak ada ruangan para siswa untuk salat berjamaah Zuhur, Ashar dan Dhuha.
“Anak-anak biasanya solat Dhuha dan Zuhur dilakukan di dalam kelas masing-masing,” ujar Nina.
Karena itulah, SDIT membangun masjid sekolah yang rencananya akan dibangun dua lantai. Dimana lantai satu dibangun untuk aula dan lantai dua untuk kegiatan solat berjamaah.
Dikatakan Nina, pembangunan masjid ini masih sangat memerlukan bantuan dana dan diprediksi menelan anggaran sebesar Rp1,8 miliar.
“Biaya Rp1, 8 miliar itu terbagi untuk tahapan I pembuatan lantai 1 yakni pondasi, kolom dan lainnya memerlukan Rp700 juta, dan tahap kedua untuk pembangunan tempat ibadah memerlukan Rp700 juta. Sementara sampai Juli ini tahap 1 yang digarap sudah menelan anggaran sebesar Rp 200 juta sekian. Dan anggaran yang terkumpul baru mencapai Rp300 jutaan. Karena itu, kami sangat mengharapkan doa restu moril dan materiel,” ujarnya.
Nurul Hidayati, menjelaskan saat ini kondisi pemerintah sangat terpuruk dalam hal keuangan. Sehingga masih belum bisa memberikan bantuan pembangunan masjid.(cil)