Total 290 atlet dari berbagai daerah ambil bagian dalam ajang ini. Selain sebagai sarana pembinaan prestasi, Kejurprov juga menjadi langkah awal menuju seleksi atlet untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026 serta Babak Kualifikasi (BK) Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ketua Pengprov Percasi Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi, menyebut kejuaraan ini sebagai momentum strategis bagi para pecatur muda, tidak hanya untuk unjuk kemampuan tetapi juga membangun jejaring di antara atlet catur se-Kaltim.
“Melalui Kejurprov ini, atlet-atlet muda mendapatkan pengalaman tanding yang sangat berharga. Ini juga merupakan bagian dari proses pembentukan tim menuju level kompetisi yang lebih tinggi, seperti Pra-PON, PON, maupun Porprov mendatang,” ujarnya kepada Korankaltim.com.
Dalam kesempatan ini, ia memastikan bahwa sistem seleksi dilakukan secara objektif dan terbuka. “Kami tidak menerima atlet titipan. Semua peserta diperlakukan setara dan dipilih berdasarkan performa mereka di lapangan,” tegasnya.
Reza mengungkapkan antusiasme peserta tahun ini meningkat dibanding edisi sebelumnya. Tiga kategori yang diperlombakan yakni catur cepat, kilat, dan standar mengacu pada regulasi nasional yang berlaku.
Melalui ajang ini, ia berharap muncul lebih banyak bibit unggul yang mampu menapaki jejak para pecatur nasional seperti Chelsie Monica dan Evi Ziela.
“Target kami adalah mencetak generasi baru yang bisa bersaing tidak hanya di level nasional, tapi juga internasional,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Agus Hari Kesuma, menegaskan pentingnya prestasi sebagai indikator keberhasilan pembinaan olahraga.
Menurutnya, catur menjadi salah satu cabang yang berpeluang besar menyumbang medali untuk daerah.
“Pemerintah sudah memberikan dukungan penuh. Sekarang fokusnya adalah berapa banyak medali emas yang bisa kita raih. Itu bukti dari efektivitas pembinaan,” ucap Agus.
Ia juga mendorong Percasi Kaltim untuk menyusun peta jalan pembinaan jangka panjang yang terukur dan terarah dalam forum Rakerprov. Sebab, keberhasilan tidak bisa diraih secara instan.
“Segala bentuk pembinaan harus dipandang sebagai investasi. Diperlukan strategi yang tepat dan target yang realistis agar hasilnya bisa konsisten,” pungkasnya.
Editor: Erwin