Beberapa cabor yang absen antara lain angkat berat, binaraga, futsal, dansa, dan catur. Dengan demikian, hanya tujuh cabor peraih medali emas pada PON XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara yang akan kembali tampil di PON 2028.
“Ini tentu menjadi bahan pemikiran kami. Saya sudah menyampaikan hal ini kepada Wakil Gubernur untuk menentukan langkah strategis ke depan,” ujar Rusdi, Senin (14/4/2025).
Sebagai langkah antisipasi, KONI Kaltim telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kekuatan atlet, sekaligus mempertahankan posisi Kaltim di jajaran 10 besar nasional, posisi yang konsisten diraih sejak menjadi tuan rumah PON pada 2008 lalu.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencetak 1.000 pelatih fisik bersertifikat nasional. Program ini sudah berjalan dan terakhir digelar di Berau dengan meluluskan 65 pelatih.
Rusdi menegaskan, pembinaan fisik atlet menjadi perhatian utama, terutama setelah ia menyaksikan langsung performa para atlet Kaltim di PON sebelumnya.
Ia optimis, kehadiran pelatih fisik ini akan menjadi salah satu kunci sukses dalam meraih kemenangan di PON XXII/2028 mendatang.
“Yang lain juga, tentu ada banyak harapan yang akan kita gali. Memang ada beberapa pemotongan anggaran. Namun, kami pastikan anggaran untuk pembinaan prestasi satupun tidak akan kita potong,” tegasnya.
Kebijakan selanjutnya, ada di pembatasan usia atlet pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang akan berlangsung di Paser pada 2026 mendatang. Di mana, atlet-atlet yang boleh bertanding di Porprov maksimal 30 tahun.
“Ini semata-mata hanya untuk menjadi acuan kita, agar nanti kedepan, angka 30 tahun bisa berubah. Sehingga nanti ada kaderisasi,” jelasnya.
Untuk itu, dia berharap seluruh pengprov cabor memperhatikan benar urusan pembatasan usia ini, agar semangat ini bisa seragam di semua lini.
“Ada beberapa cabor yang meminta kebijakan, saya ingatkan agar jumlahnya disesuaikan. Dan, aturan maksimal 30 tahun itu tetap harus diberi porsi yang lebih besar,” pungkasnya.
Editor: Erwin