Wakil Ketua I KONI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Suwarno, menegaskan cabor yang dipertandingkan didasarkan pada cabang olahraga yang ada di Olimpiade, SEA Games, Asian Games serta dua cabor dari Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).
Beberapa cabor yang akan dipertandingkan antara lain akuatik, panahan, atletik, bulutangkis, bola basket, tinju, dayung, balap sepeda, berkuda (equestrian) dan anggar.
Selain itu, sepak bola, golf, senam, bola tangan, hoki lapangan, judo, modern pentathlon, rugby 7, layar, menembak, tenis meja, taekwondo, tenis, triathlon, dan bola voli juga akan dipertandingkan.
Disusul oleh angkat besi, gulat, baseball/softball, panjat tebing, skateboard, selancar ombak, pencak silat, karate, wushu, renang fin, sepak takraw, e-sport, kick boxing, ski air, bowling dan kriket.
Oleh sebabnya, Kaltim bakal kehilangan cukup banyak peluang, lantaran cabor yang meraih medali emas di PON Aceh dan Sumut lalu tak ikut serta kembali.
Meski begitu, pelaksanaan PON sebelumnya, mulai dari Jawa Barat (Jabar), Papua dan Aceh/Sumut lalu, prestasi KONI Kaltim tetap berada di 10 besar.
“Sehingga ini menjadi satu pemicu bagi semuanya, yang terkait dengan pembinaan talet. Baik KONI, Pengprov, maupun pemerintah sendiri, untuk ke depan dihadapkan dengan PON di Nusa Tenggara,” kata Suwarno.
“Baik di Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan tidak banyaknya cabor, menjadi satu upaya untuk perioritas,” jelasnya.
Dia menginginkan banyak muncul atlet dari perorangan seperti atletik, renang, menembak, gulat, dayung dan silat.
“Yang perorangan-perorarangan ini kan jadi satu perioritas, sehingga nanti muncul medali-medali emas baru dari cabor yang layak dari Kaltim,” bebernya.
Dikatakan Suwarno, bahwa potensi ini bisa dilihat berdasarkan, pengurus bidang olahraga bukan dari orang-orang yang baru saja memulai karier dibidang itu.
“Mereka menguasai. Ditambah, akademisi di Kaltim ini banyak, sehingga kaitannya dengan keilmuan tentang olahraga disini tidak masalah,” tuturnya.
Terlebih Kaltim adalah mantan tuan rumah pelaksanaan PON tahun 2008 lalu. Sehingga banyak venue tersisa dan hanya perlu renovasi sedikit.
“Sehingga potenis-potensi itu apabila dimaksimalkan, saya kira akan melahirkan atlet yang berprestasi kedepannya,” pungkasnya.
Editor: Erwin