Salah satu contohnya yakni atlet angkat besi, Riski Juniansyah yang mendapatkan banyak perhatian atas medali emas yang raihnya pada Olimpiade Paris 2024. Maka tak heran jika banyak daerah yang menawar bergabung.
“Kalau Riski itu masa kecilnya sempat di Kaltim ya, tapi kalau dia ini kan sudah punya nama. Jadi tidak heran kalau banyak daerah yang menawarnya,” kata Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga (PPO) Dispora Kaltim, Rasman Rading, Senin (4/11/2024).
Namun, dinilai Riski tetap bertahan dengan Banten yang menjadi tempat kelahirannya. Bahkan nama Banten juga yang membawanya hingga ke Olimpiade lalu.
Sehingga, keputusan dan keteguhan itulah yang diminta Rasman dipegang oleh atlet-atlet Kaltim yang sudah punya prestasi.
“Yang menjadi perhatian saya, untuk anak-anak yang punya prestasi di beberapa cabang olahraga (cabor) kalau kalian serius mau jadi atlet nasional dan internasional ternyata itu bisa menjanjikan dari sisi karir,” jelasnya.
Orang tua yang punya anak berbakat juga diminta untuk membimbing anaknya masuk ke salah satu cabor. Apabila suatu saat anaknya berpresatasi maka bisa berpenghasilan.
Banyaknya reward dari pemerintah, mulai dari kabupaten/kota, provinsi hingg pusat. Belum lagi yang dari masing-masing cabornya. “Itu baru nasional, tapi kalau sudah internasional, ternyata dia bisa dapatkan miliaran. Maka konsistenlah berlatih,” tegasnya.
Menurutnya masih banyak atlet muda yang potensinya perlu dikembangkan. Supaya perwakilan Kaltim dapat turut serta dalam skuad Indonesia menuju Olimpiade selanjutnya.
Editor: Erwin