Pasalnya, KONI Kaltim menegaskan tak akan ada lagi mutase atlet dari luar Kalimantan Timur seperti yang sudah terjadi pada perhelatan pesta olahraga multievent empat tahunan tingkat provinsi tersebut.
Hal ini disampaikan Ketua Umum KONI Kaltim Rusdiansyah Aras saat ditemui Korankaltim.com Senin (14/10/2024) sore tadi. “Kami sudah sepakat tidak ada lagi mutasi atlet, kabupaten dan kota tidak boleh lagi memakai tenaga atlet mutasi,” ujar Rusdi. “Pengecualian untuk atlet yang mutase antardaerah di Kalimantan Timur, misalnya dari Samarinda ke Balikpapan atau dari Balikpapan mau ke Mahakam Ulu, itu boleh, yang penting tidak dari luar Kaltim,” tegasnya lagi.
Pada Porprov VIII mendatang KONI Kaltim juga akan memberikan batasan usia atlet yaitu maksimal 30 tahun sehingga kaderisasi atau regenerasi bisa berjalan. Atlet-atlet peraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 lalu juga tidak lagi boleh ikut di Porprov Paser tersebut.
“Tujuannya untuk memberikan ruang bagi atlet baru agar berprestasi, tapi pada saat seleksi BK (Babak Kualifikasi) PON mereka (atlet PON) boleh ikut,” jelasnya.
Rusdi menyebutkan regenerasi Sumber Daya Manusia (SDM) atlet dan pelatih yang harus diperbaiki.
“Tugas besar itu, seorang pelatih kompetensinya harus jelas, jadi tidak lagi otodidak. Saya nanti khawatir apa yang mereka sampaikan tidak terekam baik oleh atlet, begitu juga sebaliknya, atlet tidak lagi menghargai pelatihnya,” sebut Rusdi.
Pelatih harus bersertifikat dan plus. Jika langkah perbaikan pada SDM pelatih dan atlet diperbaiki, KONI optimistis Kaltim tetap eksis disetiap PON. “Faktanya Kaltim tidak pernah keluar dari 10 besar, sejak Kaltim jadi tuan rumah pada 2008 lalu sampai PON XXI/2024 Aceh dan Sumut,” tutup Rusdi.
Editor: Aspian Nur