Dikdik Zafar Sidik jadi nara sumber pada kegiatan ini, menyampaikan terkait manajemen pelatihan yang harus diperkuat oleh para pelatih untuk menuju PON Aceh-Sumut XXI juga program yang harus diperkuat setiap tahun.
Tahun 2022 ini Dikdik menyebut pelatih harus mempersiapkan tata kelola bagaimana kepelatihan yang maksimal untuk menggapai prestasi terlebih pada PON di Papua 2021 lalu tantangan yang dihadapi tidak terlalu berat lantaran tidak semua cabang olahraga dipertandingkan
“PON Aceh-Sumut 2024 akan lebih berat sehingga ada beberapa catatan yang harus ditekankan, sehingga dengan kegiatan ini diupayakan untuk adanya perbaikan dari hasil PON Papua 2021,” kata Dikdik.
"Di PON XXI lebih berat, pertama cabang olahraga yang dimainkan lebih banyak nomornya juga sangat banyak dan terbagi dalam dua provinsi juga banyak cabang olahraga yang tidak dimainkan sehingga Kaltim tidak tahu bagaimana peta kekuatan yang itu menjadi tantangan yang luar biasa," jelasnya.
Melalui program Pelatihan Daerah (Pelatda) Desentralisasi diyakini para pelatuh mengemban tanggung jawab untuk melanjutkan program ditahun sebelumnya.
"Tahun ini ada Porprov di Berau sehingga orientasi prestasinya masuk kepada Porprov tetapi bukan satu-satunya karena di tahun 2022 ini kemungkinan besar juga ada kejurnas untuk yang akan dipersiapkan oleh nasional menuju tahun 2023 karena banyak even internasional," papar Dikdik.
Evaluasi pada PON 2021 di Papua, secara kualitas atlet Kaltim masih yang terbaik akan tetapi mengalami kemunduran kuantitatif dalam ranking. "Secara teknis pelatih luar biasa, kemajuannya luar biasa, hanya menurun dari kuantitatif. Bicara kuantitatif posisi Kaltim menurun karena dari 5 ke 7 tetapi secara kualitatif dari 1 ke 7 kita urutan ke 2, Bali jauh lebih bagus artinya Bali yang lebih baik termasuk kuantitatif Bali rankingnya naik. Secara kualitatif Kaltim urutan kedua," jelasnya
Sehingga berkaca melalui pengalaman melalui agenda tersebut diharapkan mampu memperbaiki sinergi dan manajemen pembinaan atlet sehingga kapasitas dan kualitas atlet terukur.
Penulis: Linda Mulyani
Editor: Aspian Nur