"Kukar ingin menggali dan membina potensi putra daerah asli, saya contohkan seperti Askab PSSI, mereka membina pemain muda usia 19 tahun, ada beberapa putra daerah ini masuk ke klub nasional, artinya potensi itu ada, hanya selama ini tidak pernah digali dengan konsep yang baik," kata Edi kepada Korankaltim.com Selasa (14/12/2021) pagi tadi.
Edi menegaskan pembinaan olahraga demi majunya prestasi harus memaksimalkan putra daerah. Slogan 'biar kalah yang penting urang etam sorang' sering terdengar di setiap Edi menghadiri atau membuka acara kegiatan olahraga secara resmi.
PSSI Kukar yang diketuai H Ardinansyah jadi contoh utama. "Itu sudah dilakukan oleh Askab PSSI, makanya saya optimis cabang olahraga lain pun ada. Sederhana saja, kalau pembinaan baik pasti hasilnya pun akan baik, jangan lagi ngebon (nyewa) pemain atau atlet luar daerah," tegas Edi.
Hal senada juga disampaikan secara tegas oleh Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kukar Rahman yang menyatakan mereka secara tegas dan keras menutup pintu bagi atlet-atlet luar daerah.
Maman, sapaan akrab Rahman, menegaskan percuma uang yang digelontorkan pemerintah daerah yang seharusnya untuk upaya pembinaan olahraga, tapi digunakan untuk menyewa atlet luar daerah dengan harapan mampu mendapatkan medali pada perhelatan multi event.
"Lebih baik uang yang digelontorkan dirasakan langsung putra daerah asli Kaltim, asli Kukar dengan pembinaan dan menambah jam terbang mengikuti kejuaraan yang digelar. Kalau atlet luar daerah setelah selesai even pulang, kasihan kan adek-adek atlet asli yang tidak merasakan. Betul kata bupati, biar kalah tapi urang etam sorang, itu lebih bangga," tegas Maman.
Askab PSSI Kukar saat ini telah banyak menunjukkan kinerja bagus dan kerja nyata dalam pembinaan pemain usia dini, sepak bola wanita maupun pembinaan talenta muda yang mampu menembus Timnas dan mampu menjadi pemain profesional di klub sepak bola peserta liga nasional.
"Pembinaan yang seperti ini harus bisa dicontoh oleh 56 cabor yang ada dibawah naungan KONI, jangan para pengurus cabor itu cuma mengharapkan dan bantuan dari pemerintah saja tanpa melakukan pembinaan, kalau mengharap bantuan pemerintah, siapa saja bisa jadi ketua cabang olahraga," tutup Maman.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur