Medali perunggu diraih Edward Firnanda, atlet dari Sangatta, Kutai Timur, yang berlaga pada nomor sanda kelas 52 kilogram. “Sudah selesai semua, kami pulang tanggal 5 besok,” sebut Sopian.
Tim wushu Benua Etam diperkuat delapan atlet, enam berlaga di nomor tanding atau sanda sisanya bermain di kelas tari pakai senjata atau taulo.
"Harapannya dari kelas taulo dapat satu perak, tapi akhirnya kami hanya berada di posisi keempat padahal waktu pra-PON dapat perak, tapi itulah hasil akhir. Di kelas taulo dua atlet kami posisi empat dan tujuh," papar Sopian .
Sejatinya kelas sanda ada harapan meraih medali emas karena ada tiga atlet lolos ke semifinal.
"Dari tiga atlet yang lolos paling tidak ada emas, perak atau perunggu, tapi belum rejeki, padahal atlet sudah latihan maksimal, hanya mental juara saja yang ada. Saat sudah unggul terlihat takut, ragu, ada yang sembrono dan ada yang tidak mengikuti arahan pelatih," ungkap Sopian.
Hasil dari PON XX ini jadi catatan dan evaluasi bagi pengurus wushu Kaltim yang diketuai Abdul Rasid.
"Alhamdulillah kami sudah berupaya maksimal, selamat bagi para atlet dan seluruh ofisial yang berjuang mengharumkan nama daerah, terus semangat dan jaya selalu Wushu Kaltim," kata Rasid.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur