Ini terungkap saat Praveen Jordan, pemian ganda campuran Indonesia melakukan siaran live lewat akun instagramnya @jordan_praveen.
Disitu Praveen menceritakan bagaimana perlakuan semena-mena yang diterima rekan-rekannya dari panitia pelaksana. Pemain yang bertanding sama sekali tak boleh menggunakan bus saat disuruh kembali ke hotel dari Utilita Stadium, Birmingham di Crowne Plaza, Birmingham City Center yang berjarak 500 meter.
“Saya masih bersiap di hotel dengan Melati (Daeva Oktavianti, pasangan ganda campuran) karena mau bertanding. Tapi waktu mau berangkat kami lihat tim medis Indonesia sudah kembali ke hotel,” ujar Praveen.
Praveen sempat menduga tim Indonesia dideportasi karena ada masalah, tapi ternyata lebih buruk karena harus WO akibat ada satu penumpang di pesawat yang ditumpangi mereka dari perjalanan saat di Istanbul, Turki, ke London, Inggris, positif Covid-19.
Seluruh anggota tim Indonesia pun harus dikarantina selama 10 hari sesuai protocol kesehatan di Inggris yang membuat tim Indonesia dipaksa WO setelah sebagian pemain sempat bertanding.
Perlakuan tak adil oleh panitia terlihat karena saat tujuh atlet, pelatih dan ofisial, dari negara lain dinyatakan positif jelang turnamen, bisa dites ulang sementara tim Indonesia tidak.
Praveen beruntung karena masih berada di hotel sementara pemain yang ada di lapangan saat dipaksa keluar dari arena tak boleh menggunakan bus, harus jalan kaki tanpa pengawalan. Sedih banget dengarnya. Ironisnya lagi, mereka tak boleh pakai lift, harus tangga darurat saat di hotel," kata Praveen.
Sementara Mohammad Ahsan yang dengan pasangannya Mohammad Ahsan merasakan langsung bagaimana perlakuan tak pantas yang mereka dapatkan di negara orang. Hendra/Ahsan sempat bertanding dan menang atas wakil Inggris Ben Lane / Sean Vendy 21-18, 19-21, 21-19 dalam waktu 56 menit Rabu (17/3/2021) malam waktu Inggris.
"Setelah bertanding dan bertemu pelatih wajah mereka tegang padahal kami menang," kata Ahsan yang juga melakukan live di Instagram malam tadi.
"Setelah main itu biasanya kami diskusi dulu soal permainan, stretching. Tapi panitia bilang kami harus pulang dan besok tidak boleh tanding lagi," jelas juara All England 2014 dan 2019 ini.
"Kami harus berjalan kaki ke hotel, tak boleh naik lift, harus lewat tangga untuk sampai ke kamar. Perlakuan yang keterlaluan karena kami seperti dianggap orang sakit,” paparnya.
"Kami sama-sama bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi seperti ini, apa alasannya kami harus mundur. Ini memang berurusan langsung sama pemerintah Inggris, dan saya rasa semuanya tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Ahsan.
Ahsan dan Hendra berharap tim Indonesia bisa segera pulang ke Indonesia ketimbang harus menjalani isolasi selama 10 hari di Birmingham. "Lebih baik pulang secepatnya.
Terpisah, Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins menyampaikan rasa simpati dan tengah berkoordinasi untuk mencari solusi atas kasus ini. “Sangat disayangkan ini semua terjadi. Saya sangat bersimpati terhadap para atlet bulu tangkis Indonesia dan akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Inggris untuk melihat apakah ada yang dapat dilakukan untuk menjadi solusi dari permasalahan ini,” kata Owen.
Editor: Aspian Nur