Nomor andalan Eduardus adalah lari 5.000 meter, 10.000 meter, dan lari maraton. Tak hanya enam emas di SEA Games, Eduardus juga memiliki koleksi lima perak dari ajang SEA Games. Di luar torehan SEA Games, Eduardus juga mengoleksi beragam prestasi dan rekor di berbagai kejuaraan nasional dan kejuaraan single event internasional.
Setelah pensiun, Eduardus turut membina klub atletik miliknya Eduard Athletic Club. Selain itu Eduardus juga menjadi pelatih pemusatan latihan daerah lapis dua di Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) DKI Jakarta. Sebelumnya juga sempat melatih di Pembinaan Olahraga Prestasi Berkelanjutan (POPB) di bawah dinas olahraga daerah DKI.
Saat masih berkarier, Eduardus Nabunome pernah menciptakan 14 rekor lari jarak jauh dan menengah periode 1980-2000. Dari jumlah itu, lima rekor nasional maih bertahan atas namanya hingga saat ini. Salah satu rekor Eduardus Nabunome yang sulit dipecahkan adalah lari 10 kilometer jalan raya dengan catatan waktu 29 menit 25 detik.
Rekor itu diciptakan Eduardus Nabunome pada 1989 dan kini sudah berumur 31 tahun. Baca juga: Breaking News, Eduardus Nabunome, Mantan Pelari Indonesia Tutup Usia Pada 2018, Eduardus Nabunome pernah bercerita tentang rekornya tersebut. Eduardus Nabunome menilai rekor itu seharusnya bisa dipecahkan oleh para pelari-pelari muda Indonesia. Namun, rekor itu pada akhirnya sulit dipecahkan karena tidak banyak lomba lari dengan hadiah menarik yang diselenggarakan di Indonesia.
Menurut Eduardus Nabunome, penyelenggara lomba lari kebanyakan tidak mau repot dan takut memberi rangsangan hadiah untuk peserta lomba. "Sampai saat ini, jangankan melewati atau menyamai, mendekati catatan waktu saya itu saja tidak ada," kata Eduardus tahun 2018 silam. "Kalau mau serius, PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) seharusnya bisa membantu," ucap sosok yang akrab disapa Edu itu menambahkan. "Kalau tidak, cobalah membuat lomba lari 10k dengan hadiah yang menarik misalnya, memperebutkan tiga mobil untuk yang berhasil memecahkan rekor. Itu pasti akan menarik," tutur Edu. Selain lari 10k, dua rekor lain milik Edu yang belum dipecahkan adalah PON Maraton (2 jam, 19 menit, 27 detik) dan SEA Games Maraton (2 jam, 20 menit, 17 detik).
Meski rekornya masih belum terpecahkan, Edu pada 2018 mengaku tetap bersyukur karena olahraga lari sudah menjadi gaya hidup untuk masyarakat Indonesia. " Lari saat ini sudah digemari di Indonesia. Lomba lari juga sudah banyak diselenggarakan," kata Edu. "Paling tidak, sekarang sudah banyak orang menggemari olahraga lari. Semakin banyak, semakin bagus tentunya," ucap Edu menambahkan. Saat menjalani masa pensiun, Edu masih aktif untuk melatih dan membina pelari-pelari muda Indonesia.
Almarhum Edu meninggalkan seorang istri, Marcelina Ina N Piran, dan enam orang anak. Saat ini, jenazah Eduardus Nabunome disemayamkan di rumah duka, Jalan SMA 48, RT 007/01, Gang H Kuntet, Kelurahan Pinang Ranti, Kampung Makassar, Jakarta Timur. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di kompas.com hari Selasa 13 Oktober 2020 dengan judul “Selamat Jalan Eduardus Nobunome, Rekormu Abadi..."