Senin, 21/09/2026
Senin, 21/09/2026
Deputi KPw BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto bersama Jurnalis asal Samarinda saat melakukan kunjungan di Nepal Van Java. (Foto: Istimewa)
Senin, 21/09/2026

Deputi KPw BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto bersama Jurnalis asal Samarinda saat melakukan kunjungan di Nepal Van Java. (Foto: Istimewa)
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, YOGYAKARTA - Memahami ekonomi tidak cukup hanya dengan membaca angka inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun kebijakan moneter. Di balik data tersebut terdapat aktivitas masyarakat yang ikut menentukan arah perekonomian.
Gambaran itu dirasakan para pewarta asal Samarinda saat mengikuti Training of Trainers (TOT) Bank Indonesia Kalimantan Timur (Kaltim) pada 17-18 September 2026.
Selama dua hari, mereka tidak hanya mendapatkan materi ekonomi, tetapi juga diajak melihat langsung aktivitas masyarakat di Yogyakarta dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman media terhadap kebijakan dan perkembangan ekonomi terkini.
“Setiap tahun kami mengundang teman-teman media untuk bisa ikut hadir dan sharing tentang perkembangan terkini kebijakan Bank Indonesia,” ujar Bayu.
Menurutnya, pemahaman yang utuh diperlukan karena isu ekonomi memiliki istilah dan konteks yang spesifik. Media diharapkan mampu menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat.
“Kalau ekonomi kan istilahnya khusus. Jadi harapannya teman-teman memahami lebih dalam,” katanya.
Salah satu pengalaman lapangan diperoleh saat rombongan mengunjungi Dusun Butuh atau Nepal Van Java di Kabupaten Magelang. Di kawasan pertanian tersebut, pewarta melihat langsung komoditas seperti kentang dan tomat yang berkaitan dengan dinamika harga pangan.
“Kemarin kita kebetulan ke dataran tinggi. Kita melihat ada kentang, tomat, dan beberapa komoditas yang memang menyumbang inflasi,” ujar Bayu.
Dari aktivitas petani, persoalan harga terlihat lebih nyata. Biaya produksi menjadi salah satu penentu harga jual dan menentukan apakah petani memperoleh keuntungan atau justru mengalami kerugian.
“Kalau biaya produksinya sekitar Rp12 ribu sampai Rp15 ribu, di bawah Rp12 ribu mereka bisa rugi,” katanya.
Bagi Kaltim yang masih membutuhkan pasokan sejumlah komoditas dari luar daerah, Bayu melihat peluang kerja sama antardaerah. Namun, pasokan harus disertai perhitungan biaya distribusi agar tidak menambah tekanan inflasi.
“Kita bisa jajaki dengan petani-petani di sana dan pemerintah daerah setempat untuk melakukan KAD,” ujarnya.
Selain pangan, Bayu menilai Kaltim perlu memperluas sumber pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan terhadap sektor ekstraktif perlu diimbangi dengan pengembangan produk turunan dan sektor ekonomi baru.
“Kita tidak bisa bergantung kepada sektor ekstraktif, seperti batu bara dan sawit. Kita juga harus mulai lari ke produk turunannya,” ucapnya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengalaman membatik di Kampoeng Dolanan Borobudur. Para pewarta mencoba menggunakan canting, aktivitas yang menuntut kesabaran dan ketelitian.
Bagi Bayu, pengalaman tersebut menjadi cara lain melihat ekonomi dari dekat. Media tidak hanya memahami kebijakan melalui data, tetapi juga melihat bagaimana masyarakat bekerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi.
“Yang paling penting bagaimana kebijakan dan kondisi ekonomi itu bisa ter-deliver kepada masyarakat dengan lebih baik,” katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut ikut mendorong pemberitaan ekonomi yang lebih akurat, detail, dan memiliki konteks.
“Harapannya tentu teman-teman media bisa menyampaikan informasi yang lebih akurat, detail, dan tepat kepada masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Senin, 21/09/2026
Deputi KPw BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto bersama Jurnalis asal Samarinda saat melakukan kunjungan di Nepal Van Java. (Foto: Istimewa)
TERPOPULER