Peringatan satu abad ini menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan karya misi sekaligus menghidupkan kembali semangat pelayanan kepada masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman.
Pastor Paroki Kristus Raja Barong Tongkok sekaligus Ketua Umum perayaan Petrus Prillion mengatakan, karya misi sejak awal tidak hanya berkaitan dengan kehidupan gereja, tetapi juga pelayanan bagi masyarakat luas.
“Maknanya jauh lebih dalam sekadar sebagai orang Katolik. Misi awal itu bukan hanya untuk gereja, tetapi untuk masyarakat, khususnya di pedalaman Kalimantan,” kata Petrus kepada Korankaltim.com, Sabtu (10/10/2026).
Perjalanan karya misi di Kalimantan bagian timur telah dimulai dengan kedatangan misionaris Kapusin di Laham pada 1907. Karya misi tersebut kemudian dilanjutkan MSF, yang misionaris pertamanya tiba di Laham pada 1926.
Seiring perkembangannya, pusat misi dipindahkan dari Laham ke Tering pada 1932. Pelayanan kemudian meluas ke sejumlah wilayah, termasuk Barong Tongkok yang menjadi salah satu lokasi pembukaan stasi pada 1937.
Dalam perjalanannya, karya misi turut berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat di pedalaman Kalimantan. Aspek pelayanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang misi yang diperingati melalui perayaan satu abad MSF.
Semangat pelayanan itu juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan seabad MSF di Kubar. Koordinator Seksi Acara, Edna Bonawati, mengatakan panitia menyiapkan berbagai kegiatan agar perayaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Dalam kegiatan 100 tahun ini, kami menyadari bahwa layanan yang kita berikan harus bisa menyentuh masyarakat,” kata Edna.
Sebelum puncak perayaan, sejumlah kegiatan sosial telah dilaksanakan, di antaranya pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian sembako bagi keluarga kurang mampu dan warga lanjut usia, serta Gerakan Pangan Murah (GPM).
Persiapan terus dimatangkan agar rangkaian acara berjalan dengan baik. Program peringatan yang disusun sejak Januari hingga Oktober 2026 itu mencakup napak tilas, temu orang muda, seminar, dan berbagai kegiatan lainnya.
Editor : Aspian Nur
Peringatan satu abad ini menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan karya misi sekaligus menghidupkan kembali semangat pelayanan kepada masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman.
Pastor Paroki Kristus Raja Barong Tongkok sekaligus Ketua Umum perayaan Petrus Prillion mengatakan, karya misi sejak awal tidak hanya berkaitan dengan kehidupan gereja, tetapi juga pelayanan bagi masyarakat luas.
“Maknanya jauh lebih dalam sekadar sebagai orang Katolik. Misi awal itu bukan hanya untuk gereja, tetapi untuk masyarakat, khususnya di pedalaman Kalimantan,” kata Petrus kepada Korankaltim.com, Sabtu (10/10/2026).
Perjalanan karya misi di Kalimantan bagian timur telah dimulai dengan kedatangan misionaris Kapusin di Laham pada 1907. Karya misi tersebut kemudian dilanjutkan MSF, yang misionaris pertamanya tiba di Laham pada 1926.
Seiring perkembangannya, pusat misi dipindahkan dari Laham ke Tering pada 1932. Pelayanan kemudian meluas ke sejumlah wilayah, termasuk Barong Tongkok yang menjadi salah satu lokasi pembukaan stasi pada 1937.
Dalam perjalanannya, karya misi turut berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat di pedalaman Kalimantan. Aspek pelayanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang misi yang diperingati melalui perayaan satu abad MSF.
Semangat pelayanan itu juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan seabad MSF di Kubar. Koordinator Seksi Acara, Edna Bonawati, mengatakan panitia menyiapkan berbagai kegiatan agar perayaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Dalam kegiatan 100 tahun ini, kami menyadari bahwa layanan yang kita berikan harus bisa menyentuh masyarakat,” kata Edna.
Sebelum puncak perayaan, sejumlah kegiatan sosial telah dilaksanakan, di antaranya pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian sembako bagi keluarga kurang mampu dan warga lanjut usia, serta Gerakan Pangan Murah (GPM).
Persiapan terus dimatangkan agar rangkaian acara berjalan dengan baik. Program peringatan yang disusun sejak Januari hingga Oktober 2026 itu mencakup napak tilas, temu orang muda, seminar, dan berbagai kegiatan lainnya.
Editor : Aspian Nur