Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA- Perhelatan Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur (Kutim) 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.
1 menit baca4 kali dibaca

Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA- Perhelatan Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur (Kutim) 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road pada Sabtu (10/10/2026).
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan apresiasi kepada para tokoh adat, panitia penyelenggara dan masyarakat yang terus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Rangkaian prosesi adat yang sarat makna. Tradisi leluhur tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
"Erau tidak hanya menjadi agenda kebudayaan, tetapi juga wadah untuk memperkuat hubungan sosial dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda," ujarnya.
Tentu memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perayaan adat. Tradisi ini menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Kutai,” ujarnya.
Ritual Pelas Benua mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam dan Sang Pencipta. Masyarakat diajak untuk terus memelihara keharmonisan dan kebersamaan demi menciptakan kehidupan yang aman serta sejahtera.
“Semoga senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan,” katanya.
Salah satu prosesi yang menarik perhatian adalah beluluh, ritual penyucian diri yang menggunakan air tua dan perlengkapan adat lainnya. Warga tampak memadati area sekitar balai adat untuk menyaksikan langsung tradisi yang masih dipertahankan hingga kini.
Di tengah pengaruh budaya luar yang semakin kuat, keberlangsungan Erau Adat Pelas Benua menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Kutim. Tradisi tersebut diharapkan tetap hidup serta diwariskan lintas generasi.
"Erau bukan hanya menjadi perayaan tahunan, melainkan juga sarana merawat nilai-nilai leluhur dan memperkuat persatua," pungkasnya. (adv)
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road pada Sabtu (10/10/2026).
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan apresiasi kepada para tokoh adat, panitia penyelenggara dan masyarakat yang terus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Rangkaian prosesi adat yang sarat makna. Tradisi leluhur tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
"Erau tidak hanya menjadi agenda kebudayaan, tetapi juga wadah untuk memperkuat hubungan sosial dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda," ujarnya.
Tentu memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perayaan adat. Tradisi ini menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Kutai,” ujarnya.

Ritual Pelas Benua mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam dan Sang Pencipta. Masyarakat diajak untuk terus memelihara keharmonisan dan kebersamaan demi menciptakan kehidupan yang aman serta sejahtera.
“Semoga senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan,” katanya.
Salah satu prosesi yang menarik perhatian adalah beluluh, ritual penyucian diri yang menggunakan air tua dan perlengkapan adat lainnya. Warga tampak memadati area sekitar balai adat untuk menyaksikan langsung tradisi yang masih dipertahankan hingga kini.
Di tengah pengaruh budaya luar yang semakin kuat, keberlangsungan Erau Adat Pelas Benua menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Kutim. Tradisi tersebut diharapkan tetap hidup serta diwariskan lintas generasi.
"Erau bukan hanya menjadi perayaan tahunan, melainkan juga sarana merawat nilai-nilai leluhur dan memperkuat persatua," pungkasnya. (adv)








Pusat gempa berada di laut 50 km selatan Aceh Singkil
10 Okt 2026, 19:28:18 WIB • Kedalaman 9 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG