Ketua Borneo Spoter (BNO) Riza Noval Suhando menjelaskan, menekuni hobi memotret burung besi bukanlah hobi yang mudah lagi murah. "Kami sering berhadapan dengan pihak keamanan bandara. Tapi, sebenarnya justru kami paham betul, mengenai aturan dan standar keselamatan di area bandara," ujarnya kepada KoranKaltim.com Selasa (1/5) siang.
Kendati belum banyak terekspos dan tak banyak peminatnya, karya mereka tak jarang menjadi barang bernilai mengingat Bandara Temindung tidak lama lagi berhenti beroperasi.
Kenangan warga Samarinda mengenai Bandara ditengah kota ini, bisa saja ditemui dengan mudah di akun media sosial mereka. "Kami sering mendapati hasil foto kami dipakai menjadi foto pelengkap berita di surat kabar, sampai media online. Itu jadi kebanggaan buat kami" kata Riza.
Sementara Mika, satu-satunya anggota wanita Samarinda Spoter membeberkan, karya mereka bahkan digunakan oleh salah satu maskapai sebagai bahan promosi resminya. "Keuntungan lain di komunitas ini, kami bisa dapat ilmu dan pengetahuan di dunia aviasi langsung dari pelakunya," jelas Mika.
Bahkan di beberapa kota lain, berawal dari bergabung komunitas Spoter, tak jarang anggotanya menjadi seorang pilot atau bekerj dibidang aviasi. "Sekarang ini ada 4 orang pilot aktif, yang tercatat sebagai anggota kami," ungkapnya. (*)
Penulis: Rusdi
Editor: Aspian