Namun kalau diperhatikan, ada yang berbeda dari foto-foto yang dipajang Kim di Instagram yang dibuatnya untuk keluarga dan teman-temannya itu, yaitu foto saat dirinya berada dibelakang kemudi pesawat berpakaian lengkap ala pilot.
Sudah pasti banyak yang mengira itu hanyalah bagian dari upaya menarik perhatian, tapi ternyata itu bukan sekadar pemanis untuk foto-foto yang dishare Kim di media social pribadinya.
Ditelusuri lebih dalam, Kim De Klop ternyata memang seorang pilot wanita dan bukan pesawat biasa, melainkan pesawat kargo Boeing 747 yang kerap melintas di langit Amerika Serikat dan China.
Wanita asal Belgia ini memang seorang pilot professional setelah terlebih dulu memulai karir komersialnya dengan “maskapai penerbangan murah” yaitu Rumania Blue Air.
Dengan karir sebagai pilot Boeing 747 dan memiliki banyak pengikuti di Instagram, Kim ketiban rejeki, mendapat sponsor perusahaan jam tangan mewah Breitling dan diberi pilihan jam tangan - bernilai hingga £ 8.000, setara dengan Rp150 juta lebih, yang menggiurkan - sebagai imbalan atas posting Instagram bulanan dimana dirinya memamerkan arloji yang dikenakan.
Terlepas dari pengalamannya selama bertahun-tahun dalam pekerjaan itu, Kim mengatakan ternyata ada orang yang tidak mengharapkan seseorang seperti dirinya menerbangkan pesawat.
“Seringkali saya ditanya "apakah Anda awak kabin?" dan itu adalah pertanyaan pertama yang diajukan orang kepada saya. Dan ketika saya mengatakan saya seorang pilot, mereka bertanya apakah saya benar-benar menerbangkan pesawat itu,” ujar Kim dilansir dari laman Dailymail.co.uk Selasa (28/12/2021) hari ini.
“Saya bangga menjadi wanita di industri ini. Bangga menjadi bagian dari lima persen wanita yang terbang keliling dunia,” tegasnya.
Kim memutuskan ingin menjadi pilot sejak berusia 19 tahun dan segera memulai dengan menghabiskan dua tahun pelatihan di Rumania, memposting selfie dek penerbangan 737 Blue Air pertamanya pada September 2015.
Pada tahun 2017 dia meninggalkan Blue Air, berterima kasih kepada maskapai tersebut karena menjadi orang yang menawarkan dirinya kesempatan untuk menerbangkan 737 pada usia 21 tahun. “Saya pergi dengan kenangan yang luar biasa,” ungkapnya.
Selanjutnya, Kim mendapatkan pekerjaan di Norwegia, mengumumkan kepindahannya di Instagram dengan selfie dengan seragam barunya dan keterangan yang berbunyi “kehidupan baru, gaya baru”. Foto itu disukai lebih dari 10.000 orang.
Setelah bergabung dengan Norwegia, Kim ditempatkan di Alicante, dengan properti yang lebih murah daripada di negara asalnya Belgia. Kim segera berinvestasi dengan membeli rumah di dekat bandara.
Seolah segalanya tidak bisa lebih sempurna, begitu dia tiba di pangkalan, Kim bertemu William, pilot-in-training maskapai penerbangan Norwegia yang tampan.
Mereka mulai berkencan dan memulai kehidupan baru. “Itu datang secara alami karena kami berteman pada awalnya,” jelas Kim.
Kim adalah perwira pertama, juga dikenal sebagai co-pilot pesawat, jadi dia terbang bersama seorang kapten dan awak kabin.
Selama tiga tahun bersama maskapai Norwegia, Kim terbang sepuluh hari dalam sebulan antara Alicante dan Skandinavia. Dia adalah pilot jarak pendek yang bagi Kim hampir seperti pekerjaan normal karena dia akan kembali ke rumah di Alicante pada malam hari untuk menghabiskan waktu bersama William.
Selama 20 hari liburnya per bulan, Kim menghabiskan waktu dengan berenang, bersosialisasi dengan teman-teman, dan pergi ke gym.
Tetapi Covid melanda pada 2019, dan landasan terbang komersial terhenti. Kim dan William sama-sama mendapat cuti dan setelah berbulan-bulan kena lockdown, mereka memutuskan untuk membuat perubahan.
Mereka berdua menjadi pilot kargo untuk Challenge Aircargo, yang melibatkan penerbangan jarak jauh dan Kim belajar menguasai pesawat baru.
Dia sekarang menerbangkan Boeing 747-400 besar - yang dikenal di industri penerbangan sebagai Queen of Sky alias Ratu Langit. Berat pesawat itu sekitar 400 ton dibandingkan dengan 80 ton 737 yang pernah digunakan Kim.
"Awalnya sangat menakutkan," kata Kim. Tapi dia segera terbiasa dengan model baru itu. Bersama Ratu Langit, Kim sudah mengunjungi kota-kota yang jauh seperti New York, Atlanta, Houston dan bahkan Wuhan, kota yang disebut awal mula wabah Covid-19 menyebar.
Setiap mendarat di tempat baru, Kim memastikan untuk mengambil foto selfie.
“Karena yang bisa saya pikirkan setelah penerbangan adalah melepaskan seragam saya,” ungkapnya.
Kim bergaul baik dengan kapten dan krunya, dan sering menghabiskan malam dengan mencoba restoran dan bar baru dengan mereka sebelum kembali ke hotelnya untuk bermalam.
Dengan tunjangan perusahaan yang besar untuk makan di luar dan hotelnya, Kim dapat memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang ditawarkan destinasi tersebut.
Terlepas dari semua kota yang pernah dilihat Kim, New York telah menjadi favoritnya. Dirinya sudah mengunjungi Big Apple delapan kali sejak dia pertama kali mulai menerbangkan penerbangan jarak jauh pada bulan Maret.
“Ketika saya sampai ke kontrol perbatasan di New York, mereka semua mengenali saya,” jelas Kim.
Meskipun dia menikmati petualangannya di berbagai kota, Kim mengatakan dia merindukan rutinitas terbang jarak pendek.
Jika dia ingin kembali ke Norwegia dan kali ini duduk di kursi sebelah kiri sebagai kapten Kim perlu menghabiskan lebih banyak waktu, karena kemajuan karir pilot didasarkan pada jam terbang.
Kim saat ini memiliki 3.500 jam terbang, tetapi akan membutuhkan 4.000 jam untuk menjadi kapten pilot Norwegia.
Editor: Aspian Nur