“Penonton ingin melihat permainan sehingga FIFA mendorong wasit agar lebih ketat saat menghitung waktu tambahan,” ujar Van Basten menambahkan.
Di Piala Konfenderasi, wasit diperbolehkan mengambil tindakan tegas terhadap kiper yang memegang bola lebih dari enam detik. “Kiper bisa memegang bola maksimal selama enam detik. Namum sering kali, kiper memegang bola lebih dari itu. Salah satu insiden terjadi di Piala Dunia U-20, ada kiper yang memegang bola selama 20 detik,” tutur Van Basten.
Teknologi video asisten wasit atau VAR juga diterapkan di Piala Konfederasi. Yang menarik adalah FIFA mengujicobakan pergantian keempat saat laga memasuki tambahan waktu. Hal ini sudah disetuji oleh IFAB (International Football Association Board).
Sebelumnya, FIFA telah memberikan kewenangan kepada wasit untuk menghentikan dan menunda pertandingan jika para pengadil lapangan melihat adanya diskriminasi dari suporter saat perhelatan Piala Konfederasi 2017. Tindakan ini merupakan bagian dari “prosedur tiga langkah” yang digagas FIFA. Prosedur tersebut memperbolehkan pejabat pertandingan untuk menghentikan, menunda, dan kemudian membatalkan pertandingan bila perilaku fans dianggap telah berlebihan. (bkc)
“Penonton ingin melihat permainan sehingga FIFA mendorong wasit agar lebih ketat saat menghitung waktu tambahan,” ujar Van Basten menambahkan.
Di Piala Konfenderasi, wasit diperbolehkan mengambil tindakan tegas terhadap kiper yang memegang bola lebih dari enam detik. “Kiper bisa memegang bola maksimal selama enam detik. Namum sering kali, kiper memegang bola lebih dari itu. Salah satu insiden terjadi di Piala Dunia U-20, ada kiper yang memegang bola selama 20 detik,” tutur Van Basten.
Teknologi video asisten wasit atau VAR juga diterapkan di Piala Konfederasi. Yang menarik adalah FIFA mengujicobakan pergantian keempat saat laga memasuki tambahan waktu. Hal ini sudah disetuji oleh IFAB (International Football Association Board).
Sebelumnya, FIFA telah memberikan kewenangan kepada wasit untuk menghentikan dan menunda pertandingan jika para pengadil lapangan melihat adanya diskriminasi dari suporter saat perhelatan Piala Konfederasi 2017. Tindakan ini merupakan bagian dari “prosedur tiga langkah” yang digagas FIFA. Prosedur tersebut memperbolehkan pejabat pertandingan untuk menghentikan, menunda, dan kemudian membatalkan pertandingan bila perilaku fans dianggap telah berlebihan. (bkc)