Dahulunya sebutan danau oleh masyarakat Desa Kembang Janggut adalah untuk pulau yang airnya mengalir ke sungai Belayan.
Posisinya ada di jalan poros Kecamatan Kembang Janggut menuju Kecamatan Tabang.
Pada mulanya pulau itu hanya tempat masyarakat Desa Kembang Janggut dan nelayan mencari ikan, masih hutan dan bangunannya hanya pelabuhan saja.
Kepala Desa Kembang Janggut yakni Yadi, berkeinginan membangun obyek wisata pulau untuk daya tarik destinasi wisata baru.
Pada 2018 dibangun dua rakit terapung sebagai pusat kuliner dan ditengah rakit ada keramba ikan dan beberapa wahana permainan air.
Pada 10 Agustus 2020 diresmikan oleh Bupati Kukar Edi Damansyah sebagai obyek wisata Pulau Sahrai.
Pemerintah Desa Kembang Janggut bekerjasama dengan masyarakat desa melakukan perbaikan, penambahan sarana dan prasarana lainnya dan kawasan wisata ini kini terus dikembangkan dan dikelola Badan Usaha Milih Desa (BUMDes) Kembang Janggut sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes).
“2018 diusulkan pengalihan asetnya dari Dinas Pariwisata ke pemerintah desa, kemudian 2019 disetujui pelimpahannya dan 2020 diresmikan pak bupati. Pulau Sahrai ini menjadi objek wisata andalan Kembang janggut, guna berperan terhadap sektor ekonomi mikro, diharapkan dikelola dan dikembangkan dengan baik secara profesional,” beber Tego.
Selain menjadi semboyan ‘Wisata Kampung Etam’, Kembang Janggut juga kini memiliki budi daya khas pengembangan jamur tiram. Sektor bidang pembinaan olahraga juga digiatkan dengan dibangunnya gedung futsal di kawasan Kantor Desa Kembang Janggut.
Bahkan, Kecamatan Kembang Janggut tak bisa lepas dari komoditas tanaman kelapa sawit. Pasalnya, mayoritas masyarakat dari kecamatan ini menggantungkan hidupnya di sektor perkebunan kelapa sawit. Sekitar 70 hingga 80 persen masyarakatnya adalah pekebun kelapa sawit. Tak heran banyak orang beranggapan kecamatan ini sentralnya kelapa sawit karena keberadaan PT Rea Kaltim. (hei)
Editor: Aspian Nur
* * Berita ini telah terbit di SKH Koran Kaltim Edisi Kamis, 22 Juli 2021