Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini mengatakan, bantuan bibit tersebut merupakan tindak lanjut usulan Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, kepada Kementerian Pertanian dalam Forum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).
“Dengan target pengembangan 200 hektare, jumlah yang kami siapkan mencapai 200 ribu bibit,” jelasnya.
Meski demikian, tantangan pengembangan kakao tidak berhenti pada penanaman. Petani perlu memastikan tanaman tumbuh sehat melalui pemeliharaan rutin, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Tanpa perawatan yang tepat, perluasan lahan belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan produksi.
Karena itu, DTPHP Berau akan memberikan pendampingan teknis setelah distribusi bibit. Dukungan sarana produksi, termasuk kebutuhan pupuk dan kemungkinan tambahan bibit apabila kawasan kembali diperluas, juga akan diupayakan.
“Pendampingan akan tetap kami lakukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal,” tambahnya.
Lita mengungkapkan, kakao memiliki potensi untuk menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan di mana harga biji kakao kering saat ini dapat mencapai sekitar Rp180 ribu per kilogram.
Potensi peningkatan nilai tambah terlihat di Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur. Salah satu perkebunan di wilayah tersebut telah menerapkan fermentasi biji kakao sebelum dipasarkan. Produk hasil fermentasi itu bahkan telah menjangkau pasar di sejumlah negara.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa peluang kakao Berau tidak hanya terletak pada peningkatan volume produksi, tetapi juga pengolahan pascapanen untuk menghasilkan produk berkualitas dan memperluas akses pasar. (ri/han/ga)