Puskesmas ditegaskannya tidak hanya melayani mereka yang sakit, tetapi juga masyarakat sehat yang ingin melakukan konsultasi kesehatan. Dalam upaya meningkatkan cakupan program CKG, Dinkes Samarinda menerapkan strategi "jemput bola", terutama untuk pasien dengan akses yang jauh atau tidak memiliki anggota keluarga yang bisa mengantar.
Meskipun demikian, Budy mengakui ada beberapa kasus di mana pasien, khususnya lansia yang menolak untuk diperiksa.
"Kami tidak menyerah dan terus melakukan edukasi serta persuasi. Bersyukur, beberapa kali kami berhasil melakukan pemeriksaan pasien lansia dan hasilnya memang terindikasi adanya gangguan fisik maupun mental pada pasien tersebut," sebut Budy lagi.
Meskipun ada peningkatan partisipasi namun masih ada tantangan yang harus dilakukan untuk mencapai target optimal.
Program CKG ini juga melibatkan teknologi digital, yakni aplikasi SatuSehat. Satu dari beberapa kendala teknis yang dihadapi adalah keterlambatan pembaruan data di aplikasi SatuSehat. "Pembaruan data di Kementerian Kesehatan biasanya baru terlihat pada hari Senin jadi data pasien yang diperiksa pada hari Jumat atau Sabtu belum tercatat hingga menunggu Senin," ungkapnya.
Hal itu jadi tantangan bagi puskesmas yang melayani hingga hari Sabtu. Pasien dianjurkan datang jauh lebih awal atau bisa melakukan konfirmasi sebelumnya melalui WhatsApp Puskesmas untuk mengetahui jadwal pelayanan. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak mengantre lama di Puskesmas tanpa menyerobot antrean.
Editor: Aspian Nur