Di Paser tercatat jumlah kasus terbanyak LSD yaitu 41 ekor sapi. Dari jumlah tersebut, 39 ekor berhasil sembuh, sementara 1 ekor mati dan 1 ekor dipotong.
Sementara di Kutai Kartanegara ditemukan 4 kasus, dimana seluruh sapi yang terjangkit dipotong. Di Samarinda ada 5 kasus dengan rincian 1 ekor sembuh dan 4 ekor dipotong.
Sebagai upaya pengendalian LSD dan penyakit mulut dan kuku (PMK), DPKH Kaltim telah menggerakkan dokter hewan untuk turun langsung ke lapangan.
Selain itu pada 13 Januari lalu mereka mengadakan kick off pengendalian dan penanggulangan PMK melalui Biosecurity di Pasar Hewan dan penampungan hewan Kota Samarinda, Jalan Poros Samarinda-Bontang.
Kegiatan ini mencakup penyemprotan biosecurity untuk mencegah penyebaran PMK dan LSD yang diketahui memiliki daya sebar luas, khususnya PMK yang dapat menyebar melalui udara.
Para peternak diminta untuk secara aktif menjalankan langkah-langkah biosecurity, seperti penyemprotan disinfektan secara mandiri. Selain itu, DPKH akan melakukan vaksinasi dan surveilans melalui pengambilan serta pengujian sampel laboratorium guna memastikan kondisi kesehatan hewan ternak.
“Sebagai langkah antisipasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, DPKH akan menurunkan tim ke seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Timur untuk memonitor gejala klinis pada hewan ternak. Harapannya, PMK dan LSD dapat terkendali sebelum momentum Lebaran tahun ini,” ujar Dyah melansir dari Antaranewskaltim.com Jumat (17/1/2025) pagi ini.
Editor: Aspian Nur