Bimtek Pengembangan Aplikasi Srikandi
2 menit baca148 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) aplikasi Srikandi (Sistem Informasi Kearsipan, Dinamis dan Terintegrasi). Kegiatan ini berlangsung di Hotel Horison Samarinda, Sabtu (2/11/2024) siang.
Plt Kepala Dinsos Kukar, Yuliandris Suherdiman mengatakan Bimtek Aplikasi Srikandi ini merupakan aplikasi surat menyurat yang sudah diterapkan secara nasional.
Dalam sambutannya, Yuliandris mengatakan tujuan dari Bimtek Aplikasi Srikandi ini merupakan suatu inovasi di bidang tata persuratan dan kearsipan secara elektronik. Aplikasi ini dapat mempercepat proses persuratan pada organisasi, karena dapat dilakukan kapanpun dan di manapun, sehingga lebih efisien.
“Selain itu, bisa menciptakan kelancaran dalam persuratan dan kearsipan secara elektronik dalam penyelenggaraan pemerintahan. Harapannya agar pengelolaan arsip menjadi lebih efisien, dokumen dapat disimpan, diakses, dan diatur secara digital,” kata Yuliandris.
Menurut dia, dengan adanya aplikasi Srikandi ini, dapat mengurangi ketergantungan terhadap arsip fisik yang memenuhi ruangan dan sulit dikelola. Terlebih seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah diwajibkan memakai itu, meski diakui Yuliandris, Dinsos belum sepenuhnya menerapkan sepenuhnya ini.
“Dan ada sebagian OPD yang belum menggunakan, sehingga kami menganggap diperlukan adanya Bimtek untuk seluruh pejabat, baik fungsional maupun staf, meskipun tidak semua,” tuturnya.
Dia menjelaskan, beberapa peserta yang terlibat itu mewakili bidang-bidang. Dirinya menarget setelah Bimtek ini, aplikasi Srikandi ini sudah diterapkan untuk semua berkas kedinasa, dan tidak menggunakan secara manual lagi. Melihat pelaksanaannya nanti, apabila tidak ada lagi perubahan dalam aplikasi, maka menurutnya dalam penggunaan cukup mudah.
“Saya melihat teman-teman di Dinsos sudah mulai memahami semuanya. Prosesnya berjalan dengan baik, sehingga saya kira tidak perlu ada lagi Bimtek,” tegasnya.
Terkecuali, apabila kemudian akan ada aplikasi Srikandi versi yang baru atau update kapasitas. Yuliandris mengatakan sama halnya dengan yang lain, barang baru memang perlu penyesuaian.
“Kemudian teman-teman sudah terbiasa manual, jadi belum familiar. Sistem itu masih banyak gangguan di aplikasinya,” imbuhnya.
Dengan masih ditemukannya kendala ini, dia berharap agar ke depan nanti, aplikasi ini dan sistemnya bisa berjalan dengan baik, sehingga tidak ada lagi kendala.
Meski begitu, dampak yang dirasakannya cukup baik. Di manapun, kapanpun, saat libur maupun kerja, dalam pengadministrasian tidak ada kendala berarti. “Untuk administrasi tidak ada kendala, bisa kita kerjakan di mana saja, dan kapan saja. Bisa lewat laptop, bahkan tanda tangan juga. Jadi efisiensi waktu. Tapi kita juga harus siap kapanpun,” terangnya.
Diakuinya, keluhan kerap dilontarkan, karena server yang sering down. Jadi ketika pihaknya ingin membuat surat penting, terkadang terjadi gangguan dalam aplikasi ini. Maka, mau tidak mau sebelum ditandatangani, draft harus dikirim terlebih dahulu, meskipun terbilang belum sah karena belum ada tanda tangannya.
“Penerapan Dinsos sudah lumayan, sekitar 70-80 persen yang sudah melakukannya. Kita sudah menerima surat masuk, disposisi ke bidang-bidang, yang belum itu naskah keluar,” jelasnya.
“Harapannya mudah-mudahan ini kalau kita terapkan secara baik dan dipahami betul, itu akan mempercepat kinerja kita, dan bisa mengefisiensi waktu dan sarana prasarana,” pungkasnya. (*)










