Sedangkan pada deteksi kedua diketahui kepala keluarga tidak bekerja, dan deteksi selanjutnya mereka pernah khawatir tidak makan atau pernah tidak makan selama seharian dalam satu tahun terakhir.
“Saya rasa tidak mungkin, tetangganya membiarkan begitu saja. Misal ada tetangga kita yang tidak makan, pasti kita berikan, tapi ini masuk kategori juga,” bebernya.
Untuk deteksi selanjutnya pengeluaran kebutuhan makan lebih besar dari total pengeluaran. Misal dalam satu hari total pengeluaran mereka dalam satu hari Rp 50 ribu, dan yang dikeluarkan untuk makan Rp 40 ribu.
“Selanjutnya dalam satu tahun itu mereka tidak ada membeli pakaian, saya belum mengetahui persisnya apakah pakaian dalam masuk kategori atau tidak,” imbuhnya.
Selain itu juga menurutnya di Kota Samarinda sendiri pakaian terbilang murah, maka untuk membelinya dalam satu tahun tidak mungkin tidak ada. “Dalam satu tahun kayanya tidak mungkin, karena Rp 35 ribu saja sudah bisa dapat kan,” jelasnya.
Kemudian tempat tinggal berlantai tanah atau plasteran, dindingnya terbuat dari bambu, kardus atau terpal dan atapnya seng atau terpal. “Disini ada, cuma saya tidak bisa ungkapkan di mana. Tapi kita tangani itu,” bebernya.
Tidak memiliki jamban sendiri juga ternyata masuk dalam salah satu kategori miskin yang ditetapkan. Isfihani mengungkapkan, kasus ini biasanya dialami oleh orang yang tinggal di pinggir sungai.