“Ini dikenal dengan istilah Aphelion, saat posisi bumi dan matahari berjauhan,” jelas Kepala Stasiun Meterologi Kelas I, Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Erika Maridyanti.
Meski begitu, Erika menyebutkan bahwa suhu dingin yang terjadi di Kaltim tidak sepenuhnya berpengaruh pada fenomena Aphelion yang sedang terjadi. Karena berdasarkan pengamatan yang dilakukan, suhu udara maksimum di Kaltim berkisar antara 29 hingga 34 derajat. Sedangkan untuk suhu udara minimun berada pada suhu 22 sampai 26 derajat celcius.
Ditambahkan Erika, saat ini sebagian wilayah Pulau Jawa hingga ke Nusa Tenggara Timur mengalami puncak musim kemarau. Hal ini ditandai dengan bergeraknya angin dari timur yang berasal dari Australia.
“Sementara pada Juli, di Australia periodenya musim dingin. Jadi massa udara dari sana bergerak juga menuju Indonesia, ini yang menyabbakan suhu terasa lebih dingin,” sambungnya.
Aphelion sendiri merupakan fenomena astronomis yang umumnya terjadi setahun sekali pada bulan Juli. Padahal secara umum sebagian wilayah Indonesia berada pada musim kemarau. Ini yang kemudian disebutkan Erika, membuat Aphelion seolah-olah memberikan dampak ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia.
Melihat bahwa Apehlion bukan fenomena baru, Erika menambahkan bahwa sebagian wilayah dataran tinggi Indonesia, seperti Dieng misalnya, dapat berpotensi adanya embus es yang bagi sebagian orang dianggap sebagai salju.
“Tapi secara umum, di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara memang suhunya lebih rendah dibandingkan wilayah lain, khususnya yang di garis ekuator,” pungkansya.
penulis : */Permata S Rahayu
Editor : Bambang Irawan
Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak Sabtu tanggal 17 Juli 2021