Dalam pemaparannya sebelum membuka secara resmi, Rinda mengatakan bahwa sejak 2004 dan sudah 20 tahun berlalu saat ini tapi tingkat komposisi perempuan yang duduk di lembaga legislatif itu belum mencapai 30 persen. Inilah pentingnya salah satu dilakukan sosialisasi pendidikan politik perempuan ini.
“Pada 2019 itu hanya 7 orang jadi hanya kisaran 15 persen, sekarang ini baru 12 orang jadi hanya sekitar kisaran 26 persen sementara harapan kita kan minimal 30 persen (komposisi perempuan yang duduk di lembaga legislative, red),” kata Rinda.
Dilakukan Sosialisasi di Desa Rempanga ini, karena berangkat dari data yang telah dilakukan oleh tim Kesbangpol bahwa di desa ini pada pemilu yang lalu partisipasi politik dari gender perempuan itu cukup rendah. Oleh karena itu Kesbangpol Kukar dan Pemdes Rempanga ingin mengajak komunitas perempuan itu untuk membantu pemerintah dalam mensosialisasikan pentingnya untuk memilih.
“Jadi nanti diharapkan di Rempanga itu tingkat partisipasi nya bisa jauh lebih baik daripada 2020 kemarin,” harapnya.
Pendidikan politik perempuan ini dalam rangka mewujudkan keadilan dan kesetaran gender. Adapun tujuan umumnya juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai warga Negara. Meningkatkan pemahaman peran perempuan dalam politik. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan tentang kepemimpinan dan meningkatkan kesadaran kritis peserta terhadap pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan gender.
Adapun tujuan khusus dari pendidikan politik perempuan ini meningkatkan pemahaman tentang hak azasi perempuan, menumbuhkan kepekaan, kesadaran dan komitmen dalam menegakkan keadilan gender meningkatkan pemahaman tentang advokasi kebijakan, meningkatkan minat perempuan untuk berperan aktif dalam organisasi/lembaga politik.
“Secara garis besar tujuan utama dari pendidikan politik perempuan ini supaya perempuan Indonesia perempuan Kutai Kartanegara melek tentang politik,” pungkasnya. (*)