Masitah menjelaskan bentuk bangunan museum merupakan rumah panggung yang dalam bahasa Paser-nya di sebut “Kuta Imam Duyu Kina Lenja” menunjukkan khas kewilayahan dan budaya Paser.
“Museum ini juga merupakan rumah kediaman pemimpin yang bertingkat. Rumah ini juga merupakan bekas rumah salah satu Sultan Paser di abad ke-18, yaitu Aji Tenggara yang kemudian menjadi Istana Kesultanan oleh Sultan Ibrahim Khaliludin di awal abad ke-19,” jelasnya.
Berbagai koleksi benda kuno peninggalan sejarah Kesultanan Paser, seperti tempayang atau guci kuno peninggalan Dinasti Yuan, alat rumah tangga, alat kesenian, dan pakaian Kesultanan Paser. “Di sekitar Museum juga terdapat makam para raja dari Kerajaan Sadurengas yang sering kita kunjungi dan terdapat sebuah batu yang disebut Batu Kilan dipercaya masyarakat sekitar untuk dapat mengetahui nasibnya,” jelasnya.
Masitah berpesan kepada masyarakat agar cerita sejarah dan budaya agar tetap dilestarikan. Sebab ia menilai keberagaman tersebut menjadikan histori dari “Bumu Daya Tak”.
“Sejarah dari Museum Sadurengas dengan segala adat budaya yang wajib kita lestarikan dan karena keberagamannya ini pulalah yang membuat Sadurengas menjadi ikon histori dari Bumi Daya Taka yang kita cintai ini,” ungkapnya.
Sementara, tingginya minat dan antusias pelajar di Paser yang menghadiri dan ikut serta dalam agenda Gebyar Museum Sadurengas IV. Membuat Ia juga turut mencoba beberapa perlombaan tradisional.
Ada beberapa perlombaan yang dinilai Masitah sebagai tradisi masyarakat Paser diantaranya lomba Permainan tradisional Begasing, Belogo dan Sorong Batang. Selain itu juga terdapat lomba mewarnai untuk anak Taman Kanak-Kanak, Lomba Cerdas Cermat Museum dan Lomba lukis koleksi museum untuk pelajar Sekolah Menengah Pertama.
“Banyak pelajaran kita peroleh melalui kegiatan ini. Bukan hanya pengetahuan tentang adat istiadat, budaya dan benda bersejarah tetapi juga beragamnya permainan tradisional dari leluhur kita yang sarat makna dan harus kita lestarikan. Misalnya Begasing mengajarkan ketangkasan, kekuatan, dan ketelitian. Belogo dan Sorong Batang menanamkan nilai-nilai kejujuran, ketidakegoisan, kerja sama, dan sikap kerja keras, serta mempererat silaturrahmi,” jelasnya.
Ia mengapresiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya kegiatan tersebut juga selain melestarikan budaya juga dapat mendongkrak perekonomian.
“Mari kita tingkatkan perekonomian di sektor pariwisata melalui pelestarian adat budaya yang kita miliki sehingga perekonomian daerah yang mandiri dan berdaya saing dapat terwujud sesuai visi Kabupaten Paser MAS, Paser yang Maju, Adil dan Sejahtera,” paparnya. (*/KK)
Penulis: */Dwi Cahyo
Editor: Supiansyah