Kepala Adat Desa Tanjung Pinang, Saliman mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu warisan leluhur yang sampai saat ini masih diyakini dan terus dilaksanakan. “Biasanya kegiatan ini dilaksanakan jika seseorang di desa kami sudah memiliki nazar atas keinginannya, dan apa yang menjadi keinginannya tersebut sudah tercapai,” ucap Saliman di sela-sela kegiatan, Minggu (30/8/2020) kemarin.
Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut dengan berbagai acara. Mulai dari Aruh Belian, Pawayuan, sampai pada Hantar Seserahan kepada roh leluhur. “Untuk acara kali ini merupakan pesta panen. Di dalamnya ada rangkaian panjang kegiatan. Bukan hanya acara persembahan dan doa saja, tapi ada juga berbagai permainan tradisional yang dilaksanakan. Kegiatan ini ditutup dengan mengantar sesajen ke Gunung Punjul,” terangnya.
Ia berharap agar budaya ini bisa terus dipertahankan oleh generasi penerus. Karena itu, ia mengaku sudah melaksanakan kegiatan pelatihan budaya bagi anak-anak desa setempat. “Untuk mempertahankan budaya ini kami kumpulkan anak-anak dan kami berikan pelatihan dan pengenalan tentang budaya warisan leluhur ini,” terangnya.
Sementara Kepala Desa Tanjung Pinang, Adi Saputra mengatakan pemerintah desa mendukung penuh kegiatan ini. Ia bahkan berencana mengalokasikan anggaran dari Dana Desa (DD) untuk kegiatan pelestarian adat. “Kami sudah anggarkan untuk kegiatan pelestarian budaya warga Desa Tanjung Pinang. Kami juga berencana akan bangunkan satu rumah adat yang bisa dijadikan tempat pelaksanaan kegiatan pelestarian adat,” ucap Adi.
Ia juga berharap kegiatan bidang kebudayaan di Paser juga bisa mendapat dukungan dari Pemkab setempat. “Semoga saja apa yang telah kami laksanakan ini juga mendapat dukungan dari Pemkab Paser, supaya kelestarian adat budaya Paser bisa tetap terjaga,” harapnya.
Penulis : */Dwi Cahyo
Editor : Rusdianto
*Berita ini telah terbit, pada Koran Kaltim versi cetak edisi Senin 31 Agustus 2020 dengan judul "Alokasikan Anggaran dari DD untuk Kegiatan Budaya,".