"Cuaca panas ekstrem menyebabkan peningkatan kasus penyakit yang berhubungan dengan ketersediaan air bersih, seperti diare dan demam tifoid," ujar Basuki melansir dari Antaranewskaltim.com Kamis (19/9/2024) hari ini.
Air bersih sangat penting untuk kebutuhan minum dan kebersihan diri. Kekurangan air bersih dapat menyebabkan peningkatan kasus diare, yang erat kaitannya dengan sanitasi yang buruk.
Selain itu Basuki juga menyoroti peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang disebabkan oleh debu yang tinggi dampak dari cuaca panas ekstrem.
"Debu yang tinggi dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki masalah pernapasan," tambahnya.
Basuki optimistis kemarau tidak berlangsung lama dan segera berakhir pada awal Oktober, sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Menurut data Dinkes Kaltim, daerah dengan jumlah penduduk yang padat seperti Samarinda dan Balikpapan lebih rentan terhadap penyakit yang berhubungan dengan kekurangan air bersih.
Dinkes Kaltim juga telah mengaktifkan sistem kewaspadaan dini dan respon yang melibatkan puskesmas di tingkat kabupaten dan kota hingga provinsi dan nasional.
"Data dari puskesmas akan memberikan gambaran tentang potensi kejadian luar biasa, sehingga kita bisa lebih waspada dan mengambil tindakan yang diperlukan," paparnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Dinkes Kaltim bekerja sama dengan berbagai sektor terkait untuk memastikan ketersediaan air bersih dan memberikan perawatan yang diperlukan bagi masyarakat yang terkena dampak.
"Penyediaan informasi yang konsisten dan tepat waktu sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat," tutur Basuki.
Editor: Aspian Nur