Dengan jumlah kehamilan itu membuat angka kelahiran ikut bertambah, terutama pada 2021 mendatang. Berdasarkan data kelahiran sepanjang 2019, angka kelahiran di Kutim tercatat sebanyak 8.857 jiwa. Sementara data 2020 sejak Januari hingga Juli tercatat sebanyak 4.947 angka kelahiran baru.
Peningkatan kelahiran terlihat signifikan pada bulan Juni sebanyak 763, lalu Juli menjadi 930 kelahiran baru.
Kepala Dinkes Kutim, Bahrani Hasanal menyebutkan bertambahnya jumlah kehamilan bukan karena gagalnya program Keluarga Berencana (KB), melainkan akibat pandemi Covid-19.
Jumlah kehamilan dan kelahiran tersebut dihitung dari akseptor kontrasepsi yang putus pakai. Apalagi pada usia subur (PUS) usia sangat produktif yakni 20 hingga 30 tahun dengan tingkat fertilitas tinggi atau mudah hamil. “PUS usia produktif ini memiliki kemungkinan hamil mencapai 15 persen hingga 20 persen. Ketika tidak pakai alat kontrasepsi, maka jumlah yang hamil dan melahirkan meningkat, apalagi dimasa begini kebanyakan waktu dirumah,” ungkap Bahrani, Kamis (3/9/2020) kemarin.
Bahrani akan kembali berkoordinasi dengan Dinas KB untuk penyuluhan alat kontrasepsi demi menekan angka kehamilan dimasa pandemi. (*)
Penulis: */Zulhamri
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di koran kaltim hari Kamis 3 September 2020 dengan judul Pandemi Picu Angka Kehamilan di Kutim