Upacara adat ini dihadiri Asisten III Pemkab Kukar Dafip Haryanto unsur Forkopimda, Kepala Perangkat Daerah, para Kerabat sultan, serta undangan lainnya..
Kerabat Kesultanan Heriansyah gelar Pangeran Noto Negoro mengatakan bahwa Beluluh merupakan menandai dimulainya rangkaian Erau, yang erta bermakna pembersihan bagi Sultan serta memohon keselamatan kepada Tuhan YME.
Dafip menyampaikan sambutan Bupati Aulia Rahman Basri mengatakan Pemkab Kukar berkomitmen melestarikan adat budaya Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pemerintah berkeyakinan adanya nilai-nilai sakral dalam seluruh aspek ritual adat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
"Oleh karenanya, Pemerintah berkewajiban memberikan dukungan penuh dan fasilitasi terhadap upaya pelestarian adat tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura," ujarnya.
Proses upacara Beluluh dikerjakan oleh seorang Belian (sebutan untuk tokoh laki-laki spiritual Adat Kutai ). Kemudian, Sultan beranjak menuju balai yang berada di tengah Kedaton. Balai tiga tingkat yang kemudian diduduki Sultan itu terbuat dari haor (bambu) kuning yang memiliki 41 kaki. Sambil duduk diatas Balai dan diiringi doa, Sultan diberikan tempong tawar dan air bunga oleh Dewa (sebutan untuk tokoh wanita spiritual Adat Kutai). (adv/prokom04/si/mh)