Plt. Kepala DP3A Kukar, Hero Suprayitno mengatakan kegiatan ini sebagai bagian dari langkah bersama dalam mencegah dampak buruk teknologi informasi terhadap anak dan remaja. DP3A Kukar menekankan pentingnya keterlibatan aktif lintas sektor dalam menyikapi persoalan ini secara serius dan terstruktur.
Hero menilai pengawasan dari orang tua dan lingkungan pendidikan terhadap aktivitas anak masih tergolong longgar. Hal ini membuat anak-anak lebih rentan terhadap paparan konten negatif dan aktivitas online yang berisiko, seperti judi online dan konten negatif lainnya.
“Kita perlu mengantisipasi hal ini secara bersama. Pencegahan harus dilakukan secara masif dan sistematis. Semua pihak, khususnya lembaga pendidikan, harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan teknologi secara bijak,” ujar Hero.
Dirinya menjelaskan meskipun teknologi informasi sangat penting untuk menunjang kompetensi para pelajar, namun sisi negatifnya juga harus diwaspadai. Anak-anak perlu diarahkan agar tumbuh menjadi individu unggul, berbudaya, dan siap menghadapi tantangan global, bukan justru terjebak dalam arus informasi yang salah arah.
Dalam konteks penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan sekolah, Hero menyampaikan bahwa AI harus dimanfaatkan sebagai alat bantu yang memperluas wawasan siswa, bukan justru membuat mereka kehilangan kreativitas.
“AI itu bermanfaat, tapi penggunaannya harus diarahkan dengan bijak. Jangan sampai siswa hanya meniru tanpa memahami. Mereka harus bisa memodifikasi dan mengembangkan pengetahuan yang diperoleh,” paparnya.
Untuk itu, konsep pembelajaran seperti ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) dinilai penting untuk dikenalkan sejak dini. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan mampu berpikir kritis dan kreatif dalam menyerap dan menerapkan informasi dan teknologi. Guru pun dituntut untuk terbuka terhadap perkembangan dan mampu menyesuaikan metode pembelajaran.
DP3A Kukar juga menyoroti pentingnya memperluas jangkauan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Meskipun upaya ini telah berjalan, Hero menekankan bahwa jejaring yang kuat antar lembaga perlu terus dibangun agar pesan-pesan perlindungan anak lebih efektif dan menyentuh langsung kepada pihak-pihak yang berperan penting dalam pendidikan.
“Anak-anak dan guru bisa menjadi agen perubahan di sekolah. Dengan dukungan organisasi lokal dan mitra strategis, kita yakin edukasi yang disampaikan akan berdampak lebih luas dan kuat dalam membentuk generasi yang sadar teknologi, tapi tetap beretika,” tegasnya. (*)