Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Yuliandris mengatakan PKH merupakan salah satu program perlindungan sosial melalui pemberian uang tunai kepada masyarakat yang kurang beruntung dengan persyaratan-persyaratan tertentu.
Tujuan PKH adalah untuk mengurangi angka dan memutus rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mengubah perilaku yang kurang mendukung peningkatan kesejahteraan warga tidak mampu.
Dalam jangka pendek program ini bertujuan mengurangi beban warga miskin dan dalam jangka panjang diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi, sehingga generasi berikutnya dapat keluar dari perangkap kemiskinan.
Diantara program-progam sosial kemasyarakatan pemerintah dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan tersebut, salah satu program yang diharapkan tepat sasaran adalah PKH, karena didalam program tersebut menyasar dua hal, yaitu memberikan bantuan langsung tunai, dan juga memberikan pendampingan dalam upaya pemberdayaan kepada masyarakat miskin.
PKH merupakan suatu program penanggulangan kemiskinan dengan mengakumulasi lorong-lorong strategis untuk keluar dari kemiskinan dan meningkatkan taraf pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Diharapkan pendamping PKH bisa melakukan pendampingan terhadap penerima manfaat agar bantuan yang telah diberikan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk keperluan pemenuhan kebutuhan dasar seperti pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan ataupun pemenuhan kebutuhan ekonomi.
“Tidak dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan konsumtif yang tidak perlu,” katanya.
Selain itu, Dinsos mengarahkan agar pendamping PKH melakukan edukasi kepada penerima manfaat melalui kegiatan atau motivasi yang bersifat pemberdayaan. Yuliandris yakin penerima manfaat mempunyai potensi ekonomi atau sosial yang bisa dikembangkan. Sehingga, mereka bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan tidak terlena dengan adanya bantuan yang diberikan oleh pemerintah.
“Tetapi harus berusaha untuk melepaskan diri dari bantuan-bantuan pemerintah, dengan cara mengembangkan potensi diri, melakukan usaha-usaha yang mempunyai nilai ekonomis produktif sehingga nantinya akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, tidak tergantung lagi dengan bantuan pemerintah,” harapnya.
Penerima manfaat yang sudah mampu secara ekonomi, agar didorong untuk melepaskan diri secara mandiri dari bantuan-bantuan pemerintah, biarkan bantuan pemerintah diberikan kepada warga masyarakat lain yang lebih membutuhkan. Melalui kegiatan ini diharapkan bisa melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program, baik itu ketepatan sasaran program, validasi data penerima program, sehingga kedepannya pelaksanaan program yang sangat baik ini, dapat terlaksana lebih baik lagi dan bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Terima kasih pendamping PKH yan sudah melakukan pengabdiannya mengorbankan tenaga dan pikiran dalam berupaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat Kutai Kartanegara,” ucap Yuliandris.
Kegiatan peningkatan kapasitas pendamping PKH ini dikhususkan dalam peran mereka penanganan dan pencegahan stunting dari segi tugas dan fungsi pendamping PKH dikaitkan dengan stunting.
“Sangat berat sekali karena penerima manfaat dari program keluarga harapan itu ada beberapa komponen yang terkait dengan penanganan dan pencegahan stunting komponen tersebut adalah balita dan ibu hamil sehingga dengan peningkatan kapasitas dalam pencegahan dan penanganan stunting hari ini dari berbagai macam narasumber yang dihadirkan nanti kita mengharapkan adanya pengetahuan adanya penambahan wawasan dari para pendamping PKH,” terangnya.
Penambahan wawasan yang penting dimiliki ini lanjut Yuliandris sangat penting dalam upaya-upaya penanganan stunting yang harus dilakukan para pendamping PKH. Kemudian pendamping PKH juga diharapkan mengetahui sampai sejauh mana kasus stunting atau gizi buruk yang ada di Kutai Kartanegara.
“Kita mengharapkan para pendamping PKH lebih bisa berperan aktif dari upaya-upaya pencegahan penanganan stunting di wilayahnya masing-masing khususnya bagi keluarga penerima manfaat program PKH itu sendiri,” pungkasnya. (*)
Editor: Erwin