“SPAM pedesaan untuk target dedikasi itu kita ditetapkan 50, harusnya kan pak bupati periodenya 2021-2026 sehubungan ada percepatan karena menyikapi adanya Pilkada serentak jadi bapak (bupati) sampai hanya 2024 dan Alhamdulillah pencapaian kita dari 50 target itu kita bisa laksanakan 84 titik,” kata Yahdan sapaan akrab Supriyadi Agus.
Meskipun sudah melampaui dari target yang ditetapkan, Yahdan mengungkapkan masih ada beberapa titik SPAM pedesaan yang perlu penyempurnaan dan optimalisasi. Optimalisasi diperlukan baik untuk sarana fisik segi teknis pelaksanaannya.
“Untuk teknis pelaksanaannya Disperkim Kukar mendorong pengembangan SDM-nya. Artinya wajar tidak menuntut karena di setiap daerah itu bisa berbeda-beda kan sifatnya teknis beberapa pantauan kami jadi kami mengadakan pelatihan-pelatihan untuk bagaimana mengolah air itu menjadi yang layak,” ungkapnya.
Adapun contoh pelatihan yang dilakukan Disperkim yakni teknis pencampuran bahan kimia ke air baku yang diolah untuk menjadi air bersih yang layak dikonsumsi masyarakat pedesaan.
Selain teknis pelatihan pengolahan air baku dengan melibatkan Perumda Tirta Mahakam dari tenaga teknis nya, Disperkim juga memberikan pelatihan manajemen pengelolaan SPAM desa agar bisa berkelanjutan dengan melibatkan peran serta masyarakat yakni berupa iuran-iuran dengan dikelola oleh pemerintah desa melalui BUMDes masing-masing.
“Kita berikan pelatihan manajemen keuangan dan operasional karena tidak menutup kemungkinan di situ akan ada yang namanya iuran yang dikelola oleh BUMDes. Kita mengharapkan mereka itu bisa mandiri dari iuran-iuran itulah bisa memaksimalkan dan mengoptimalkan jalannya sistem SPAM pedesaan itu,” jelasnya.
“Untuk sistem pengolahan air nya sama seja dengan kawan-kawan PDAM cuma beda kapasitas, kalau PDAM kan ratusan liter perdetik, SPAM desa ini skalanya kecil saja,” pungkas Yahdan. (*)
Editor: Erwin