“Koperasi ini mengelola orang banyak, kalau enggak sabar, ya itu tadi koperasi akan bermasalah,” katanya.
Uli sapaan akrab Edri menjelaskan ada salah satu hal yang bisa menyebabkan koperasi hancur yakni pendirian koperasi tidak disertai tujuan dan perencanaan yang matang.
“Di awal pendiriannya, koperasi belum menghasilkan apa-apa jika pengelolaanya tidak sabar, koperasi tersebut akan ditutup,” jelasnya.
Padahal lanjut Uli merintis usaha membutuhkan proses panjang. Karena itu, tidak semua hal bisa berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang instan. Terlebih lagi koperasi adalah milik orang banyak, bukan perorangan. “Namanya orang banyak, timbul perselisihan, ndik besabaran ya akan hancur. Makanya sabar itu penting,” ucapnya.
Kemudian koperasi akan berhasil serta menghasilkan omzet miliaran. Dengan begitu, koperasi tersebut akan dikerumuni dan didatangi banyak orang. Ia mencontohkannya seperti gula yang akan selalu dikerumuni banyak semut karena rasanya yang manis. Saat koperasi menghasilkan sesuatu, sambung dia, maka akan semakin banyak orang yang tergiur untuk mendapatkan hasilnya.
Akhirnya, sebut Endri, saat koperasi tidak dikelola oleh orang-orang yang tidak berintegritas, maka akan mempercepat kehancurannya.
“Jadi, memang perlu kesabaran. Kesabaran, kejujuran, integritas dari pengelola itu penting,” tegasnya.
Selain itu, ungkap dia, koperasi hancur karena kapasitas SDM yang mengelolanya tidak profesional. Apalagi, pengurus koperasi akan selalu berganti.
Jika orang-orang yang menggantikan pengurus sebelumnya tidak memiliki kapasitas dan tidak berintegritas, koperasi akan hancur dan harus mengulang lagi pengelolaannya dari nol.
“Ini milik orang banyak. Namanya, orang banyak pasti berganti-ganti,” tegasnya. (*)