"Salah satu pelaku UMKM binaan kami yang cukup sukses dan bisa menjadi percontohan adalah Dapur Pelangi, mereka sudah sangat bagus dalam memproduksi serta melakukan manajemen keuangan untuk pengembangan usaha mereka," kata Fathul.
Ditemui langsung Koran Kaltim, Owner Dapur Pelangi Tony Anggara menceritakan dirinya fokus berusaha bidang kuliner. Usahanya yang dilakukan di Outlet sekaligus rumah produksi jajanan aneka kuliner di Jalan Arwana Kelurahan Timbau Kecamatan Tenggarong ini sudah bertahan selama tiga tahun.
"Diberi nama dapur pelangi karena filosofisnya itu berdasarkan dari banyaknya jenis makanan yang kami olah kemudian banyaknya orang yang terlibat jadikan berwarna, ada roti manis roti asin kemudian donat, coklat brownies, cake, puding ya aneka makanan dan banyak bermacam-macam bervarian dan banyak orang yang dilibatkan bekerja sama langsung dengan kami 11 orang kemudian yang bermitra untuk jadi kurir satu orang yang tetap, go-jek go-food grabfood ya sudah banyak lah yang via WA dan jasa-jasa pengantaran itu," ungkapnya.
Awal pintu masuk dan Dapur Pelangi dikenal ke pemerintah itu karena tergabung di komunitas wirausaha yang diberi nama 'tangan di atas'.
Dari situ dirinya mendapat berbagai arus informasinya sehingga merasakan bahwa peran pemerintah dalam hal ini Diskop UKM memang benar-benar hadir dan dirasakan oleh pelaku UMKM.
"Misalnya kami ada usul butuh ini kira-kira pemerintah bisa nggak memfasilitasi kalau tidak bisa memfasilitasi materinya ya bisa memfasilitasi ruangannya, syukur-syukur bisa memfasilitasi ruangan dan pematerinya dan alhamdulillah kemarin kami pernah usul terkait kelas teknis jadi tidak cuman melulu membuat produknya tapi kita perlu juga belajar manajemennya pengelolaan uang untuk usaha yang kita tekuni," ujarnya.
Dari usulan ini kemudian dibuatlah pelatihan teknis manajemen usaha sederhana, bertujuan untuk bimbingan bagaimana mengatur duit usaha ini supaya tidak tercampur dengan duit pribadi.
Saya yang menginisiasi malah sama Pak Fathul saya yang diminta untuk jadi narasumber nya pemateri. Sempat kami lakukan pertama di BPU Kecamatan Tenggarong kemudian kami juga pernah mengisi kegiatan serupa untuk Desa Sepakat berlangsung nya di Hotel Grand Fatma. Kebetulan kami mengide tapi kami juga yang diminta jadi narsum bagaimana manajemen uang barang dan bagaimana cara bernegosiasi itukan terlepas dari skill memproduksi barang atau produk olahan makanan," terangnya.
Tony berharap apa yang sudah bagus dilakukan pemerintah ini bisa tetap dipertahankan, namun dirinya meminta supaya kegiatan semacam ini bisa merangkul semua komunitas UMKM lainnya.
"Pentingnya pelatihan ini kan untuk peralihan supaya orang-orang berenterpreuner, harapannya ke pemerintah ya kalau pelatihan itu jelasnya dirangkul kan ada beberapa kawan-kawan yang jenis usahanya tidak punya komunitas jadi kurang dapat arus informasi jadi ya mereka merasa pemerintah ini tidak ada andil nya padahal pemerintah itu perannya banyak cuman memang karena arus informasi itu berada di lingkungan tertentu misalnya dapat bantuan, dapat informasi pelatihan ada pengembangan ini dan itulah ya yang dapat ya orangnya itu itu saja," harapnya. (*)