“Jadi program data desa kelurahan presisi ini adalah programnya yang dibuat oleh fakultas ekologi dari IPB, kemudian pak Pj Gubernur ini menginginkan di Kalimantan Timur itu dilaksanakan,” ungkapnya.
Maka pada tahun 2023 itu ada dilaksanakan di Penajam Paser Utara (PPU) dengan disponsori oleh Bank Kaltimtara, karena lumayan besar biayanya dan melibatkan ribuan orang. Melihat kegiatan ini, Bupati Kukar tertarik juga dengan program ini dan menginginkan data di Kutai Kartanegara ini harus akurat dan harus detail.
“Sudah menyampaikan keinginan ini ke Pak Pj Gubernur dan alhamdulillah dibantu oleh provinsi untuk pembiayaan 104 desa kelurahan nanti desanya yang sisanya belum ini akan dibiayai oleh APBD Kutai Kartanegara,” ujarnya.
Tim dari IPB akan turun langsung ke desa kelurahan untuk melakukan proses pembuatan data dengan sangat detail, mulai data wilayah, data kependudukan data potensi wilayah, data pemerintahan, data kemiskinan, data stunting. Setelah Kick Off ini Tim IPB akan turun ke desa kelurahan, lokusnya di 104 des/kelurahan. “Nanti akan ditunjuk numerator-numerator akan membantu mereka melakukan collecting data dan tugasnya itu tahapannya ada klarifikasi data dari pihak pemerintahan desa dan kelurahan. Tahun ini 104 desa kelurahan nanti di perubahan (APBD-P, red) kita upayakan bisa juga artinya target kami di tahun 2024 ini total 237 desa kelurahan se Kukar itu selesai data desa kelurahan presisi,” harapnya.
Dilihat dari menu penjelasn yang disampaikan pada Kick Off Meeting maka sangat detail bahkan bisa dimunculkan data-data stunting, data-data kemiskinan baik DTKS maupun kemiskinan ekstrem. Sehingga kedepan berkemungkinan untuk melihat data real itu, apakah nanti data itu betul ataukah nanti data itu ada kesalahan data. Sehingga data presisi ini bisa dijadikan pembanding dari data-data yang dibuat oleh pihak berwenang.
Nanti dengan data presisi kita bisa melakukan perbandingan data ternyata ada yang memang betul-betul sama, atau mungkin ada yang tidak atau mungkin bisa ditemukan di data itu tidak kemiskinan tapi dengan kita turun membuat data-data itu mungkin bisa lebih juga jumlahnya.
“Artinya kita fair saja kalau memang ada ya kita data misalnya di pihak berwenang menampilkan data di desa itu ada 10, ternyata dengan data presisi 15 ya kita fair. Dan itulah akurat jadi kita betul-betul pembuatan program data presisi ini ingin memotret secara detail data real yang ada di kutai Kartanegara,” pungkas Arianto. (*)