“Kabupaten Kutai Kertanegara merupakan salah satu lumbung pangan di Kaltim. Pembangunan berbasis kawasan dapat mengakselerasi transformasi ekonomi melalui integrasi sektor pertanian, peternakan, perikanan dengan penyesuaian daya dukung alam, infrastruktur, dan sarana prasarana,” katanya.
Sumberdaya manusia memiliki peran kunci dalam menjamin terselenggaranya semua peran hulu sampai hilir dalam proses agroproduksi, agroindustri, dan agribisnis, agroteknologi dan agrowisata.
Dari agroproduksi ada empat strategi untuk meningkatkan produktivitas pertanian, peternakan, dan perikanan. Pertama pengelolaan sumber daya air dan perbaikan kualitas lahan, kedua pengembangan peternakan dengan kecerdasan dalam pemilihan hewan ternak serta edukasi dan pemantauan kesehatan ternak secara berkala.
Strategi ketiga, pengembangan kawasan mandiri benih yaitu dengan kerja sama dengan universitas dalam peningkatan SDM untuk penyediaan bibit/benih mandiri, penguatan Gapoktan penyediaan gudang penyimpanan benih dan Diversifikasi benih yaitu pengembangan benih beras premium serta pengembangan variasi benih padi tahan hama. Dan strategi terakhir yakni keempat ialah pengembangan perikanan yaitu dengan menerapkan pemilihan budidaya perikanan terintegrasi, pengelolaan budidaya ikan dan pemilihan benih ikan berkualitas.
Selanjutnya untuk agroindustry strategi yang diterapkan yaitu penerapan teknologi pasca panen, sehingga akan mendapatkan peningkatan kapasitas SDM pengelola rumah produksi padi, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengolahan limbah pertanian berbasis ekonomi sirkuler dan peningkatan kapasitas kelompok dalam pemanfaatan alsintan (alat mesin pertanian).
Untuk agroteknologi yaitu guna menunjang keberhasilan produksi pertanian, peternakan dan perikanan maka perlu diintroduksi inovasi teknologi dan pemanfaatan strategi yang dilakukan adalah edukasi literasi digital dan pengenalan beberapa penerapan teknologi digital di bidang pertanian, peternakan dan perikanan.
Selanjutnya agribisnis yaitu focus pada pemantauan dan pengembangan informasi pemasaran hasil produksi pertanian yang akurat dengan kualitas produk yang diharapkan oleh konsumen. Strategi yang dilakukan yaitu pendekatan strategi pemasaran yang memperpendek rantai pemasaran sebagai sistem pemasaran yang sesuai bagi petani dan pelaku usaha pertanian terintegrasi. Pengembangan agribisnis dengan penciptaan iklim wirausaha dan kemitraan dengan standarisasi kualitas produk dan kelembagaan dan strategi yang terkahir untuk agribisnis ialah diversifikasi usaha dan produk untuk meningkatkan nilai tambah dalam produk pertanian, peternakan dan perikanan.
Sedangkan untuk agrowisata ditujukan untuk mengembangkan kawasan pertanian terintegrasi sebagai tujuan wisata baru berbasis potensi sektor pertanian dan sebagai teaching farm bagi masyarakat sekitar maupun masyarakat luar yang ingin belajar mengenai pertanian terpadu. “Strategi yang dilakukan adalah penentuan lokasi konsep dan pembentukan tim pengembang agrowisata dengan melibatkan kelompok masyarakat setempat, misal Pokdarwis desa setempat. Diharapkan pembangunan pertanian terintegrasi berbasis kawasan ini nantinya diarahkan pada konsep Food Estate,” pungkasnya. (*)