“Bupatinya turun langsung dan ini butuh komitmen bersama seluruh perangkat daerah menjadikan pariwisata super prioritas,” kata Bahari.
Point kedua harus mampu menggali kekuatan budaya dan kekuatan sumber daya alam yang dimiliki untuk kemudian dikemas secara luar biasa, sehingga sumber daya yang awalnya hanya biasa-biasa saja ini menjadi luar biasa dan memiliki daya tarik yang besar bagi wisatawan.
Ketiga, memaksimalkan keunggulan daerah yang dimiliki, semisal di Banyuwangi punya event unggulan Gandrung Sewu, untuk di Kukar bisa dimaksimalkan dengan event tahunan besar yakni pesta adat Erau.
Hal keempat yaitu memaksimalkan dan mengangkat sektor pariwisata menjadi pendapatan daerah yakni memaksimalkan pajak hiburan, pajak perusahaan, pajak restoran, pajak hotel serta mengoptimalkan retribusi yang kaitannya dengan tempat-tempat rekreasi.
"Apabila potensi ada dan kunjungan bagus otomatis pendapatan juga meningkat. Yang kita kejar itu bagaimana sektor pariwisata meningkat kunjungan meningkat dan ujung-ujungnya pendapatan daerah juga meningkat, ini yang kita tiru dari Banyuwangi seperti 100 event dalam setahun kita implementasikan Kukar Kaya Festival,” imbuhnya.
Kemudian point kelima ialah menjadikan semua sector pendapatan pariwisata ini dalam system terintegrasi digitalisasi. Semua obyek wisata baik pajak dan retribusi itu pendapatannya masuk dengan mekanisme secara digital.
Teknis pungutannya sudah digital, koordinasi koneksi antar objek wisata dengan Bapenda itu sudah semakin bagus dan ini juga harus ditiru khususnya oleh Dinas Pariwisata. “Jadi objek-objek wisata itu sudah terkoneksi dan masuk langsung ke Dinas Pariwisata. Terutama ini semua bisa terlaksana karena kerja bersama seluruh perangkat daerah dan kerja ini memerlukan waktu yang tidak hanya setahun dua tahun, secara bertahap namun yakin pasti bisa,” tutup Bahari.