Banyuwangi dipilih karena ada kemiripan dan ketika diterapkan di Kukar tentu bisa. "Mereka memulai dari nol, strategi yang bagus bukan karena uang memang karena sesuatu yang unik disitu, kami diskusi terungkap hal menarik, pertama itu strategi kebijakan menjadikan pariwisata super prioritas bukan lagi prioritas, Bupati nya langsung memerintahkan jadi semua instansi itu didorong untuk mendukung pariwisata semuanya tanpa terkecuali jadi pariwisata itu dianggap sesuatu yang paling utama disitu," Bahari.
Hal kedua yaitu Banyuwangi mampu menggali kekuatan budaya dan kekuatan sumber daya alam untuk kemudian dikemas secara menarik dan luar biasa, yang sebetulnya kekuatan sumberdaya yang dimiliki ini biasa saja, namun dikemas secara maksimal akhirnya bagus.
"Akhirnya tempat wisata tumbuh event didukung oleh pemerintah. Dan hal ketiga mereka punya sesuatu unggulan yaitu punya 100 event setahun. Jadi datanglah orang-orang ramai berkunjung kesitu bedanya mereka sudah mampu menjualnya dengan mengemasnya lebih baik," ucap Bahari lagi.
Kemudian perihal ke-empat yaitu memaksimalkan dan mengangkat sektor pariwisata menjadi pendapatan daerah yakni memaksimalkan pajak hiburan, pajak restoran, pajak hotel serta mengoptimalkan retribusi yang kaitannya dengan tempat-tempat rekreasi.
"Banyak pendapatan yang masuk, apabila potensi ada dan kunjungan bagus otomatis pendapatan juga meningkat. Yang kita kejar itu bagaimana sektor pariwisata meningkat kunjungan meningkat dan ujung-ujungnya pendapatan juga meningkat dan kami belajar banyak dari Banyuwangi tentang itu," pungkasnya.