Perwakilan dari Kemenkop UKM, Kabid Rantai Pasok, Edy Hariyana mengatakan dan berharap kepada para peserta FGD yang berjumlah 35 orang pelaku UMKM ini agar bisa menambah wawasan dan memiliki inovasi baru dalam memproduksi olahan jahe sambil menunggu RPB di Jonggon sudah dibangun dan bisa dioperasionalkan.
“Diharapkan para UMKM nanti punya inovasi, punya terobosan baru dalam rangka untuk pemasaran produk mereka nanti. Kami juga berharap nanti produk mereka bisa masuk di rantai pasok di perusahaan-perusahaan besar ataupun BUMN sebelum rumah produksi bersama ini terwujud kalau ini sudah bisa terwujud sudah pasti nanti produk UMKM disini bisa masuk,” katanya.
Dengan nanti telah dibangunnya RPB di Desa Jonggon, maka hal ini bertujuan untuk memberikan kepastian harga jual kepada para pelaku UMKM dalam hal ini petani Jahe yang memasok bahan bakunya untuk diolah di RPB.
“Nanti petani bisa mendapatkan kepastian harga karena selama ini kan ketika ada produksi mereka panen, harga jualnya turun, nah kita harapkan dengan adanya Rumah Produksi Bersama itu ada kepastian harga dan juga karena bekerja sama dengan apoteker nantinya siap menampung berapapun jumlah produksi yang dihasilkan oleh petani ataupun pelaku UMKM,” ungkapnya.
Hal senada ditambahkan Kepala Diskop UKM Kukar, H Tajudin yang menyatakan bahwa Rumah Produksi Bersama yang ada di wilayah Kukar diharapkan UMKM nantinya bagaimana hasil olahan dari produksi rumah produksi bersama ini bisa dikembangkan betul-betul dengan usaha-usaha yang sesuai dengan bahan baku jahe baik nanti berupa serbuk jahe ataupun esensial oil.
“Pabrik itu nantinya selain mengolah menjadi esensial oil, juga bubuk powder jahe ini juga,” ucapnya.
Tajudin menjelaskan fokus pihak Kementerian Koperasi UKM dipusatkan di daerah Jonggon, namun untuk pasokan bahan baku berupa jahe nantinya bisa melibatkan kawasan sekitar, baik itu Tenggarong, desa-desa lainnya di Kecamatan Loa Kulu hingga Kecamatan Tenggarong Seberang dan tak menutup kemungkinan kawasan kecamatan lainnya se-Kukar.
“Dengan adanya FGD ini harapannya untuk rantai pasok kesediaan bahan baku dulu yang menjadi permasalahan kita uraikan, karena selama ini target kapasitas produksi ini cukup besar, kalau kita hitung-hitung tadi kalau seandainya sampai satu hari penuh kita laksanakan itu, kurang lebih dibutuhkan sampai empat ton bahan baku jahenya per hari, nah hal ini yang perlu kita sikapi,” jelasnya.
“Kami berharap, tidak hanya masyarakat sekitar Jonggon saja, namun diharapkan kawasan kecamatan lain se-Kukar juga bisa terlibat untuk bisa mensupport memenuhi kebutuhan bahan baku jahe ini, terlebih lagi kalau RPB nanti sudah dibangun dan beroperasi yang direncanakan dan kita harapkan 2023 sudah bisa berjalan,” pungkas Tajudin. (*/hei)