Dalam dimensi ekonomi trend pertumbuhan ekonomi Kutai Kartanegara kondisi awal berada diangka minus 1,71 persen dan terus tumbuh hingga 3,77 persen atau angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Dalam dimensi sosial dilihat dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai gambaran perkembangan kualitas pendidikan, kesehatan dan kekuatan ekonomi masyarakat, kondisi awal IPM sebesar 72,19 meningkat hingga mencapai 73,78.
Dari komponen pendidikan ditunjukkan dengan trend peningkatan rata-rata lama sekolah penduduk, yang semula mencapai 8,7 tahun meningkat menjadi 9,1 tahun. Harapan lama sekolah semula 13,26 tahun menjadi 13,58 tahun. “Dari pendekatan pembangunan pendidikan tersebut dapat dimaknai bahwa kualitas pendidikan Kutai Kartanegara terus mengalami peningkatan. Begitu pula dari komponen kesehatan, dilihat dari umur harapan hidup kondisi awal dikisaran 71,64 tahun menjadi 72,21 tahun, sehingga dapat disimpulkan kondisi kesehatan masyarakat menunjukkan trend positif sebagai dampak dari peningkatan kualitas layanan kesehatan yang lebih baik,” katanya.
Kondisi ini diikuti trend positif rata-rata pengeluaran perkapita sebagai indikasi tingkat kemampuan ekonomi masyarakat, kondisi awal sebesar 10,5 juta rupiah, tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar 11,1 juta rupiah per tahun.
“Seiring dengan hal tersebut tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka mengalami trend positif, semula penduduk miskin sebanyak 7,63 persen dari jumlah penduduk saat ini menurun menjadi 7,21 persen, sedangkan pengangguran semula 7,97 persen saat ini menurun menjadi 5,98 persen,” sebutnya.
Dalam pandangan Edi Rendi sebagai pasangan bupati dan wakil bupati, Kutai Kartanegara merupakan kampong halaman, ladang amal, sekolah kehidupan, dan sekaligus kantor pengabdian yang senantiasa terlintas dalam setiap helaan nafas, pikiran dan tindakan untuk menjadi objek pengabdian bagi bangsa dan negara yang tercinta.
Dalam pendekatan administratif Kutai Kartanegara merupakan salah satu daerah otonom dengan luas wilayah sebesar 27,263 km², yang terdiri dari 20 kecamatan, 193 desa dan 44 kelurahan, dengan jumlah penduduk 696.784 jiwa, memiliki segenap potensi sumber daya alam terbarukan dan non terbarukan, ditambah dengan keunikan budaya dan peninggalan sejarah sebagai pusat kerajaan hindu tertua di Nusantara. Sehingga Kutai Kartanegara tidak hanya sebatas daerah setingkat kabupaten namun catatan sejarah menyatakan bahwa titik awal kejayaan Nusantara berada di Kutai Kartanegara.
“Sehingga Kutai Kartanegara harus bangkit menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dalam mewujudkan pembangunan Indonesia yang lebih maju, terlebih sebagian wilayah Kutai Kartanegara telah dicanangkan menjadi daerah Ibu Kota Negara (IKN) baru, sehingga Kutai Kartanegara harus siap menjadi mitra bagi percepatan dan kesuksesan pembangunan wilayah IKN,” tegas Bupati Kukar Edi Damansyah. (*/kk)